BITUNG – detikperistiwa.co.id
Lembaga Analisis Hak Asasi Manusia (HAM) mengunjungi 6 warga stateless yang bermukim di Pulau Lembeh, Kelurahan Moto, Kota Bitung, pada Rabu (17/9/2026).
Kunjungan tersebut mengungkap kondisi memprihatinkan sebuah keluarga. Salah satu orang tua dari anak bernama Reselyn Zonio Monfil diketahui mengalami gangguan kejiwaan dan depresi, serta harus rutin mengonsumsi obat-obatan.
Keluarga tersebut hanya bergantung pada sang ayah, Rosilito, yang berprofesi sebagai nelayan kecil dengan penghasilan tidak menentu. Meski dalam keterbatasan, ia tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya yang sakit.
Kepada tim, Rosilito menceritakan bahwa ia datang ke Indonesia sejak 10 tahun lalu dengan satu tujuan, ingin hidup dekat dengan keluarga dari garis neneknya yang berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.
Ia pun menyampaikan harapan besarnya kepada tim.
“Saya sangat berharap dan bermohon supaya boleh dibantu untuk saya bisa ada identitas dengan anak-anak, supaya Saya pe anak boleh lanjut sekolah. Selagi saya mampu mencari, tetap mau berusaha supaya itu anak saya boleh lanjut sekolah, cuma itu depe kendala torang nya ada identitas. Torang bermohon supaya torang boleh ada jalan dibantu sampai torang dapat KTP,” ujar Rosilito.

Harapan serupa juga disampaikan putrinya, Reselyn Zonio Monfil, yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMA dan akan segera lulus. Ia mengaku terancam tidak bisa melanjutkan kuliah lagi Karna tidak bisa mengambil ijazah di karnakan belum bisa melengkapi berkas Karna belum memiliki dukumen. Kependudukan
“Tahun ini kita so mo lulus dari sekolah, so harus mo lengkapi berkas supaya kita boleh mo dapat kita pe ijazah. Saya berharap pihak terkait boleh bantu supaya torang boleh ada identitas kong kita boleh lanjut kuliah. Kita dari SD sampai SMA puji tuhan juara terus di sekolah,” ungkap Reselyn.
Warga stateless lainnya, Brent Landia Gampamole, yang ayahnya berasal dari Pulau Sangihe, juga menyampaikan keinginan yang sama.
“Kita mau punya identitas sebagai warga negara Indonesia sama deng kita pe Papa,” kata Brent.
Kunjungan ini menegaskan bahwa persoalan stateless bukan hanya soal administrasi, melainkan soal kemanusiaan.
Penulis : Sartika.












