Arizal Mahdi Soroti Kiprah H. Subarni A. Gani: Bekerja Layaknya Seorang Bupati Bireuen

Bireuen – detikperistiwa.co.id

Kiprah pengusaha asal Bireuen, H. Subarni A. Gani, dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan mendapat perhatian dari Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB), Arizal Mahdi.

Arizal menilai, keterlibatan H. Subarni dalam membantu masyarakat menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pengusaha tidak harus berhenti pada pencapaian dunia usaha. Menurutnya, ketika kemampuan ekonomi yang dimiliki seseorang ikut digunakan untuk membantu masyarakat, maka manfaatnya dapat dirasakan jauh lebih luas.

Dalam menggambarkan kiprah tersebut, Arizal menyebut H. Subarni bekerja “layaknya seorang Bupati Bireuen.”

Ungkapan itu, menurut Arizal, bukan berarti H. Subarni memiliki jabatan maupun kewenangan sebagai kepala daerah. Yang dimaksud adalah bentuk kepedulian dan kehadirannya dalam persoalan masyarakat, sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya sebagai seorang pengusaha dan tokoh masyarakat.

Salah satu kontribusi yang menjadi perhatian adalah keterlibatan H. Subarni A. Gani melalui PT Blang Keutumba dalam pembangunan hunian tetap (huntap) bagi penyintas bencana di Kabupaten Bireuen.

ANTARA News Aceh pada 16 April 2026 melaporkan bahwa H. Subarni A. Gani selaku pemilik PT Blang Keutumba membangun 60 unit huntap bagi penyintas bencana. Pembangunan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain Balee Panah, Teupin Mane, Simpang Jaya, Alue Limeng, Salah Sirong, serta beberapa unit di Kubu dan Pante Karya, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana, sebuah rumah bukan sekadar bangunan. Rumah merupakan tempat untuk kembali menata kehidupan, membesarkan anak-anak, dan memulai kembali hari-hari setelah melewati masa yang berat.

Di titik itulah, menurut Arizal, kontribusi dunia usaha memiliki makna kemanusiaan yang sangat besar.

Jejak kepedulian H. Subarni juga tercatat dalam bidang pendidikan. Sejarah yang dipublikasikan Pesantren Modern Al-Zahrah Bireuen mencatat keterlibatan H. Subarni dalam pengembangan lembaga pendidikan tersebut. Sumber tersebut menyebutkan bahwa pada 1997 H. Subarni menyerahkan dana awal sebesar Rp600 juta untuk mendukung kegiatan pendidikan. Pada penerimaan pertama tahun 1999, 50 dari 60 santri disebut berasal dari keluarga terdampak konflik dan memperoleh pendidikan tanpa dipungut biaya hingga lulus, dengan pembiayaan yang bersumber dari dana tersebut.

Bagi Arizal, kepedulian terhadap pendidikan memiliki nilai yang berbeda karena manfaatnya dapat berlangsung lintas generasi.

Membangun rumah membantu sebuah keluarga memiliki tempat untuk hidup kembali. Membantu pendidikan seorang anak berarti membuka kesempatan agar anak tersebut memiliki masa depan yang lebih baik. Keduanya merupakan bentuk kepedulian yang manfaatnya tidak selalu dapat diukur hanya dengan angka.

Arizal melihat apa yang dilakukan H. Subarni sebagai gambaran bahwa dunia usaha dan kepedulian sosial dapat berjalan berdampingan.

Menurutnya, seorang pengusaha tidak harus menjadi pejabat untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Pemerintah memiliki mandat dan kewenangan dalam menjalankan pelayanan publik, sementara masyarakat dan dunia usaha memiliki ruang pengabdian melalui kemampuan, sumber daya, pengalaman, jaringan, serta kepedulian yang mereka miliki.

Karena itu, Arizal berharap semakin banyak pengusaha di Aceh yang memandang keberhasilan bukan semata-mata dari besarnya usaha atau materi yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga dari seberapa jauh keberadaan mereka dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam nilai-nilai Islam, harta dan kemampuan pada hakikatnya merupakan amanah. Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki kepada seseorang, terdapat pula kesempatan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Namun, kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk yang sama. Ada yang membantu melalui pendidikan, ada yang membantu melalui rumah, kesehatan, lapangan pekerjaan, bantuan bencana, pemberdayaan masyarakat, maupun bentuk kebaikan lainnya.

Yang terpenting adalah manfaatnya benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Bagi Arizal, semangat seperti itu patut menjadi inspirasi bagi para pengusaha lainnya, khususnya di Aceh.

Bireuen membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tetapi masyarakat juga membutuhkan kepedulian. Pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat dapat mengambil peran masing-masing sesuai kemampuan dan tanggung jawabnya.

Dalam konteks itulah Arizal menyampaikan apresiasinya terhadap H. Subarni A. Gani.

Menurutnya, yang patut diperhatikan bukan persoalan jabatan, melainkan kemauan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan.

Seorang pengusaha dapat membangun perusahaan, menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan usahanya. Namun, ketika sebagian dari kemampuan tersebut juga digunakan untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan, maka keberhasilan itu memperoleh makna sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu berhenti pada apa yang berhasil dimilikinya, tetapi juga dapat dilihat dari manfaat yang ditinggalkannya.

Rumah yang membantu sebuah keluarga bangkit kembali, pendidikan yang membuka jalan bagi seorang anak, serta kepedulian yang meringankan beban masyarakat merupakan bagian dari amal sosial yang dapat meninggalkan jejak panjang.

Semoga setiap kebaikan yang diberikan kepada masyarakat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT dan terus menghadirkan manfaat bagi kehidupan orang lain.

Dari sudut pandang itulah Arizal Mahdi menggunakan ungkapan bahwa H. Subarni A. Gani bekerja “layaknya seorang Bupati Bireuen” — bukan dalam arti jabatan atau kewenangan pemerintahan, melainkan sebagai gambaran atas kepedulian dan keberpihakannya pada kemaslahatan masyarakat melalui kapasitas yang dimilikinya.

Arizal Mahdi
Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB)
Volunteers Caring for the People Across Borders
Humanity Beyond Borders — Tanpa Batas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain