Aceh Utara – detikperistiwa.co.id
Puluhan warga yang hendak menunaikan salat Jumat di kawasan Keudee Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, harus menghadapi kepungan debu dari aktivitas pekerjaan Jalan Lintas Nasional (Jalnas) Bireuen–Medan, Jumat (25/9/2026).
Kondisi paling terasa di sekitar depan Alfamart Krueng Mane, ketika debu beterbangan akibat aktivitas pekerjaan dan kendaraan yang melintas. Sejumlah jamaah bahkan disebut harus mengganti pakaian yang telah kotor dan menghitam akibat debu sebelum melaksanakan salat Jumat.
Bukan hanya jamaah, pekerja bengkel dan warga yang beraktivitas di sekitar lokasi juga mengaku harus berhadapan dengan debu setiap hari. Kondisi tersebut dikeluhkan karena mengganggu kenyamanan, membuat pakaian cepat kotor, serta menimbulkan rasa sesak bagi sebagian orang yang berada di sekitar lokasi.
Seorang pekerja mekanik bengkel di Krueng Mane, Apin, mengatakan dampak debu sudah cukup mengganggu aktivitas masyarakat.
“Puluhan jamaah sampai harus mengganti pakaian. Baju mereka menjadi hitam dan kotor karena debu,” ujar Apin,
Menurutnya, pekerjaan jalan di lokasi saat ini telah memasuki tahap pemadatan batu base dan menunggu proses pengaspalan. Pada tahap tersebut, menurut dia, pengendalian debu seharusnya dilakukan lebih intensif.
“Kalau sudah tahap persiapan pengaspalan, penyiraman seharusnya lebih banyak dan sering,” katanya.
Apin menyebut penyiraman memang dilakukan pada pagi hari, namun debu kembali beterbangan ketika aktivitas kendaraan meningkat.
“Ini disiram saat pagi saja. Kalau pun ada, nanti sore. Kami yang bekerja di sini berdebu, kami sesak,” keluhnya.
Warga Minta Kontraktor dan Pengawas Lebih Responsif
Ia meminta kontraktor dan petugas yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut lebih memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat.
“Petugas atau kontraktor yang menangani, tolong respect. Kami berdebu, kami sesak. Itu sudah menyangkut K3,” tegas Apin.
Keluhan terbaru ini menambah sorotan terhadap pengendalian debu di kawasan pekerjaan Jalnas Bireuen–Medan tersebut.
Sebelumnya, pada Jumat malam, 18 September 2026, kondisi berdebu juga dilaporkan terjadi di kawasan Simpang Elak, Keudee Krueng Mane. Masyarakat ketika itu meminta BPJN Aceh mengevaluasi pola penyiraman, rambu-rambu keselamatan, pengaturan area pekerjaan serta penerapan K3.
Sepekan kemudian, persoalan serupa kembali dikeluhkan warga.
BPJN Aceh Diminta Turun ke Lapangan
Masyarakat berharap BPJN Aceh, pengawas pekerjaan dan kontraktor pelaksana turun langsung melihat kondisi di lapangan, terutama pada jam aktivitas kendaraan sedang padat.
Pengawasan dinilai diperlukan agar pekerjaan tidak hanya mengejar progres fisik, tetapi juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat di sekitar proyek.
“Pihak pengawas yang lain juga harus turun mengambil tindakan,” harap Apin.
Warga mengaku tidak mempersoalkan pembangunan dan perbaikan jalan. Namun, selama pekerjaan berlangsung, mereka berharap pengendalian debu dilakukan secara konsisten agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Jalan nasional sedang dibangun, tetapi warga berharap pembangunan tidak dibayar dengan debu yang setiap hari mereka hirup.
(Abu yus)










