Tambang Timah Rakyat Kecil di Pesisir Belitung Timur Jadi Tumpuan Hidup di Tengah Ekonomi Sulit

Tambang Timah Rakyat Kecil di Pesisir Belitung Timur Jadi Tumpuan Hidup di Tengah Ekonomi Sulit

 

*BELTIM* – Di tengah kondisi ekonomi yang serba susah saat ini, tambang timah rakyat kecil yang tersebar di wilayah pesisir pantai Kabupaten Belitung Timur masih menjadi tumpuan utama masyarakat untuk mempertahankan hidup.

 

Bagi warga pesisir, tambang timah bukan sekadar pekerjaan. Dari hasil menambang itulah mereka menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, membeli kebutuhan pokok, hingga membayar kebutuhan sehari-hari.

 

“Kalau bukan dari timah ini, kami mau makan apa? Kerjaan lain susah. Semua serba mahal sekarang,” ujar salah seorang penambang rakyat di kawasan pesisir Belitung Timur, Selasa (4/11/2026).

 

Warga mengaku, kondisi ekonomi saat ini semakin menekan. Harga kebutuhan pokok naik, sementara peluang kerja di sektor lain sangat terbatas. Karena itu, mereka berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap keberlangsungan tambang rakyat kecil.

 

Di sisi lain, masyarakat juga masih menagih janji politik Bupati Belitung Timur yang pernah menjanjikan *10 ribu tenaga kerja* bagi masyarakat.

 

Hingga kini, janji tersebut dinilai warga belum juga terealisasi. Lapangan kerja yang dijanjikan belum dirasakan, sementara mata pencaharian utama mereka dari tambang rakyat justru semakin sulit.

 

“Kami bukan minta yang macam-macam. Kami cuma minta janji itu ditepati. Kalau 10 ribu tenaga kerja itu ada, kami tidak akan ngotot menambang. Tapi nyatanya belum ada,” tambah warga tersebut.

 

Masyarakat pesisir berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi yang adil dan berpihak kepada rakyat kecil. Bukan sekadar melarang, tetapi juga menghadirkan lapangan kerja nyata sebagai pengganti.

 

Mereka menegaskan, selama belum ada pekerjaan pengganti yang jelas, tambang timah rakyat kecil di pesisir pantai Belitung Timur harus tetap diberi ruang agar masyarakat bisa terus bertahan hidup.ptytsl

 

Detikperistiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain