
Kisah Bripda Rumaniyah memang mengharukan dan inspiratif. Perjuangannya menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan tekad kuat, dukungan orang tua, dan usaha yang gigih, ia berhasil membuktikan bahwa kesempatan selalu ada bagi mereka yang mau berjuang.
Selain itu, kisahnya juga menggambarkan pentingnya sistem seleksi Polri yang transparan dan memberikan peluang bagi siapa saja, termasuk mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ini bisa menjadi motivasi bagi banyak anak muda di Indonesia untuk tidak menyerah pada keadaan dan terus berusaha mencapai cita-cita mereka.
Menurutmu, apa pelajaran terbesar yang bisa diambil dari kisah Bripda Rumaniyah?
Penulis: Agung Biro Pekalongan.
Pekalongan Jateng Https//detikperistiwa.co.id Mengharukan, Kisah Bripda Rumaniyah, Putri Buruh Tani Yang Lolos Seleksi Polri
Bripda Rumaniyah (19) tidak bisa menahan tangisnya saat ia bersama kedua orangtuanya di hadapkan dengan para awak media di sela-sela rakernis SDM Polri di Wisma Perdamaian Semarang
Ia yang memiliki latar belakang keluarga kurang mampu masih belum percaya bisa lolos menjadi anggota polri.
Air mata tampak mengalir saat ia teringat orang tuanya bahkan tidak memiliki biaya untuk ongkos ke Jakarta melihat pelantikan Rumaniyah sebagai polisi.
Gadis asal Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan itu baru saja dilantik
“Awal pendaftaran saya memang sempat pesimis karena memang tidak ada biaya untuk ongkos, dan biaya operasional pendaftaran lainnya,” terang polwan berjilbab tersebut.
Ketika mengutarakan niatnya ke orangtua, ia tambah sedih lantaran kedua orangtuanya menyatakan hanya memiliki sejumput uang yang tidak banyak. Dana itu juga rencananya digunakan untuk membayar hutang.
“Bapak bilang itu buat bayar hutang saudara di Wonogiri, sudah diminta boleh dipake dahulu untuk operasional pendaftaran,” imbuh polwan berparas manis tersebut.
Meski demikian keterbatasan itu tidak menghalanginya.
Sebelum ujian ia sempat was-was karena memiliki bekas luka jahitan. Dengan tinggi belum mencapai 160 sentimeter, ia memilih Divisi Teknologi Informasi. Hanya saja divisi tersebut tidak pernah ia pelajari ketika mengenyam pendidikan di SMK Negeri Jawa Tengah.
“Saya menghubungi guru-guru saya waktu SMK untuk membimbing dan memberikan reverensi buku yang kiranya membantu saya dalam ujian masuk Polri, buku itu lalu saya baca dan pahami,” terangnya.
Dari situ ia akhirnya bisa lolos untuk mengikuti pendidikan di SPN Polda Jabar.
“Ya saya sekarang ingin berbakti kepada orang tua nabung buat membelikan mereka rumah,” ucap anak ke enam dari tujuh bersaudara tersebut.
Setelah menjadi polisi, putri pasangan Kliwon dan Miskiyah tersebut diperkirakan akan mendapatkan gaji dan tunjangan hinga Rp 5 juta lebih. Terpisah, Kliwon (62) ayah Bripda Rumaniyah menyatakan ia memang hanya bekerja sebagai buruh tani.
“Ya kalau ada kerjaan diminta bertani ya baru dapat bayaran, sehari bisa Rp 60 ribu. Kalau endak ya nggak dibayar,” imbuh Kliwon