Bireuen – detikperistiwa.co.id
Sembilan bulan setelah banjir menerjang, Pemerintah Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh, mulai mendorong gagasan pemanfaatan kembali sejumlah ruang dan lahan yang terdampak bencana agar dapat memberikan manfaat baru bagi masyarakat.
Keuchik Alue Kuta, Habibullah, mengajak perangkat gampong bersama masyarakat untuk melihat lahan terdampak bukan semata sebagai sisa kerusakan akibat banjir, melainkan sebagai aset yang masih memiliki potensi untuk dipulihkan dan dikembangkan.
Salah satu gagasan yang didorong adalah memanfaatkan area tambak yang telah tertimbun untuk dikaji kemungkinan pengalihfungsian menjadi lahan persawahan.
Gagasan tersebut diarahkan untuk mengembalikan produktivitas lahan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat. Namun, pelaksanaannya tentu perlu mempertimbangkan kondisi tanah, kualitas material timbunan, sistem pengairan, elevasi lahan, serta kelayakan teknis dan lingkungan.
Bagi Alue Kuta, pemulihan pascabanjir tidak hanya berarti membersihkan material sisa bencana. Lebih jauh, pemulihan diharapkan dapat membuka kembali ruang ekonomi yang sebelumnya terhenti.
DARI LAHAN TERDAMPAK MENJADI LAHAN PRODUKTIF
Ajakan Keuchik Habibullah kepada perangkat gampong dan masyarakat menempatkan gotong royong sebagai bagian penting dari proses pemulihan.
Jika hasil kajian nantinya menunjukkan bahwa lahan tersebut layak dikembangkan menjadi sawah, pemanfaatannya dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kembali sumber penghidupan warga setelah banjir mengubah kondisi sejumlah lahan di kawasan tersebut.
Transformasi lahan harus dilakukan secara terencana agar investasi masyarakat tidak berakhir sia-sia. Karena itu, pemetaan kondisi lahan, pengujian tanah, perencanaan irigasi, serta kajian teknis menjadi tahapan penting sebelum perubahan fungsi dilakukan.
LAPANGAN VOLI RUSAK, MUNCUL GAGASAN LAPANGAN FUTSAL
Perhatian Pemerintah Gampong Alue Kuta juga diarahkan kepada fasilitas olahraga.
Lapangan voli yang mengalami kerusakan akibat banjir sekitar sembilan bulan lalu direncanakan untuk ditata kembali. Salah satu gagasan yang sedang didorong adalah menjadikan lokasi tersebut sebagai lapangan futsal.
Rencana itu diharapkan dapat memberikan ruang aktivitas olahraga yang lebih luas bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Lapangan olahraga bukan hanya persoalan fasilitas fisik. Di tingkat gampong, keberadaannya dapat menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, menjaga kesehatan, mengembangkan bakat anak muda, serta menyediakan kegiatan positif bagi generasi berikutnya.
Namun, seperti halnya rencana pemanfaatan lahan pertanian, pembangunan fasilitas olahraga juga membutuhkan perencanaan mengenai desain, pembiayaan, drainase, keamanan, pemeliharaan, dan keberlanjutan penggunaannya.
MEMULIHKAN BUKAN SEKADAR MEMBANGUN KEMBALI
Sembilan bulan pascabanjir, tantangan Alue Kuta bukan hanya memperbaiki kerusakan yang terlihat, tetapi juga memastikan bahwa ruang-ruang yang terdampak dapat kembali memberikan manfaat.
Gagasan pemanfaatan tambak tertimbun sebagai sawah dan penataan kembali fasilitas olahraga menunjukkan adanya upaya untuk melihat pemulihan dari perspektif yang lebih panjang.
Lahan pertanian diarahkan untuk kembali produktif.
Fasilitas olahraga diarahkan untuk kembali hidup.
Dan masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses perencanaan serta pelaksanaannya.
Keuchik Habibullah mengajak perangkat gampong dan masyarakat untuk membangun pemulihan melalui kebersamaan, perencanaan, dan pemanfaatan potensi lokal.
ALUE KUTA DAN AGENDA PEMULIHAN BERKELANJUTAN
Bagi masyarakat yang pernah menghadapi dampak banjir, pemulihan bukanlah pekerjaan sehari atau dua hari. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah gampong, masyarakat, tenaga teknis, serta dukungan pemerintah di tingkat kecamatan dan kabupaten apabila diperlukan.
Karena itu, setiap gagasan pembangunan perlu diterjemahkan menjadi perencanaan yang terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Apabila kajian teknis dan dukungan yang diperlukan dapat terpenuhi, lahan yang sebelumnya kehilangan fungsi dapat kembali menjadi sumber produktivitas, sementara ruang olahraga yang rusak dapat kembali menjadi tempat tumbuhnya aktivitas positif masyarakat.
Dari lahan yang tertimbun, Alue Kuta mencari kemungkinan untuk menanam kembali masa depan. Dari fasilitas yang rusak, masyarakat mencoba membuka kembali ruang bagi generasi muda.
Itulah makna pemulihan yang lebih besar: bukan sekadar kembali seperti sebelum bencana, tetapi membangun sesuatu yang lebih berguna setelahnya.
Detik Peristiwa












