Siasat Dalam Menjaga Hati di Wonolopo

Semarang – detikperistiwa.co.id

Balai Kelurahan Wonolopo siang itu, Selasa (28/4), tak sedang sibuk mengurus birokrasi rutin. Suasananya lebih tenang, namun ada ketegangan yang menggantung saat Lurah Wonolopo,Rina Sugimurwani, berbicara di depan mikrofon. Ia tidak sedang bicara soal angka kemiskinan, melainkan sebuah ancaman yang lebih senyap: “Jangan korbankan masa depanmu hanya karena pacaran yang tidak sehat.”
Kalimat itu menjadi pembuka tirai sebuah diskusi yang lebih dalam mengenai bagaimana cara dua manusia berinteraksi. Di tengah hiruk-pukuk gerakan sekolah ramah anak, Wonolopo mencoba menarik garis pembatas pada wilayah yang selama ini dianggap abu-abu: relasi asmara remaja.

Distorsi Pesan di Balik Kata Sayang

Tsaniyatus Solihah—akrab disapa Mbak Ika—hadir membedah anatomi hubungan yang kerap berubah menjadi racun. Sebagai fasilitator perempuan dan anak, Ika melihat sebuah pola yang jamak terjadi: bagaimana kontrol atas pasangan sering kali disalahpahami sebagai bentuk perhatian.

Dalam kacamata Ika, masalah utama bermula ketika komunikasi kehilangan kejujurannya. Sifat posesif bukan lagi soal rasa peduli, melainkan hambatan bagi seseorang untuk berkembang. Ia melemparkan pertanyaan retoris yang memukul kesadaran peserta: “Kalau pacaran justru membuat masing-masing lebih semangat mengejar cita-cita, kira-kira itu sehat tidak?”

Pertanyaan ini menyentuh inti dari cara manusia berbagi makna. Sebuah hubungan seharusnya menjadi ruang aman, bukan medan tempur fisik maupun verbal yang mengakibatkan seseorang kehilangan arah hidup. Di era media sosial yang serba terbuka, Ika mengingatkan bahwa batasan personal adalah benteng terakhir agar privasi tidak lumat oleh dominasi pasangan.
Kepastian di Atas Kontrak Sosial
Jika Ika bicara soal pengelolaan rasa dalam ruang privat, M. Azmi Ahsan membawa perspektif tentang kepastian struktur. Sebagai Kepala KUA Mijen, Azmi melihat masalah ini dari hulu ke hilir. Baginya, relasi tanpa komitmen yang jelas sering kali terjebak dalam pola komunikasi yang manipulatif dan permisif.

Azmi memberikan kontras yang tajam antara hubungan “sekadar bersenang-senang” dengan ikatan legal-spiritual. Dalam hubungan jangka pendek, pesan yang disampaikan cenderung tidak memiliki tanggung jawab moral, sehingga rentan terjadi tindakan amoral hingga pengabaian hak pasangan.

Sebaliknya, melalui konsep perkenalan atau ta’aruf yang terukur, ia menawarkan sebuah peta jalan menuju komitmen yang memiliki landasan hak dan kewajiban yang kokoh.
Bagi Azmi, kepastian hukum dan status bukan sekadar urusan administratif di kantornya, melainkan cara paling valid untuk melindungi individu dari ketidakpastian relasi.

Membangun Benteng Kolektif

Diskusi ini tak hanya menjadi konsumsi Karang Taruna. Di deretan kursi penonton, tampak para pengurus RT, RW, Babinsa, hingga perangkat kelurahan menyimak dengan saksama. Ada kesadaran bahwa ketika sebuah hubungan remaja mulai melampaui batas, dampaknya akan merembet menjadi beban sosial bagi lingkungan.

Wonolopo siang itu sedang melakukan sebuah eksperimen penting: mendidik warganya agar mampu membedakan mana dukungan tulus dan mana kendali yang membelenggu. Upaya ini adalah langkah preventif agar masa depan anak muda di sana tidak layu sebelum berkembang, hanya karena salah mengartikan pesan di balik kata “cinta”.

Pada akhirnya, apa yang ditekankan di Balai Wonolopo adalah sebuah prinsip sederhana: bahwa dalam sebuah hubungan, kehadiran orang lain seharusnya menjadi cahaya yang menerangi jalan, bukan bayangan yang justru menutupinya.

——–
Pram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *