Majalengka – detikperistiwa.co.id
Bangunan SDN 3 Mirat, Kecamatan Leuwimunding, ambruk pada Jumat (1/5/2026), sehari menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional. padahal sekolah tersebut baru direhabilitasi tahun 2021.
peristiwa ini menuai sorotan tajam dari Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia (LAKRI) endus aroma dugaan korupsi
Tim Investigasi LAKRI, Taufik Hidayat, mengecam keras ambruknya atap sekolah. Menurutnya, bangunan yang baru 4 tahun direhab seharusnya masih dalam masa garansi.
“Baja ringan biasanya garansi sampai 15 tahun, ini baru jalan 4 tahun sudah ambruk. Ada apa ini?” kata Taufik.
LAKRI menyatakan akan mengawal dugaan indikasi korupsi dalam pengerjaan dan pengawasan proyek rehab SDN 3 Mirat.
Sebelumnya Bupati Majalengka Eman Suherman langsung meninjau lokasi bersama Kadisdik, Kadis PUTR, dan Plt Kepala BKAD. Dari hasil sidak, ditemukan dua masalah teknis utama:
Baja ringan terlalu tipis: Ketebalan hanya 0,75 mm, dinilai tidak memenuhi standar kekuatan untuk bangunan sekolah.
jarak kuda-kuda terlalu lebar: Melebihi 1 meter, padahal standar ideal maksimal 80 cm agar beban atap tersalur merata.
Bupati menyebut hujan deras jadi pemicu, tapi akar masalahnya ada di konstruksi.
“Kualitas pembangunan fasilitas pendidikan tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Untuk memastikan KBM tetap jalan, siswa sementara dialihkan ke ruang perpustakaan dan musala sekolah.
Bupati memastikan perbaikan dilakukan segera menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) tanpa menunggu anggaran perubahan.
Ambruknya SDN 3 Mirat jadi pengingat pentingnya pengawasan ketat proyek infrastruktur pendidikan.
Bangunan yang belum 5 tahun tapi sudah roboh menunjukkan ada yang salah dalam perencanaan, pengerjaan, atau pengawasan. ( Aboen)












