MUKTAMAR NU 1994: 1 Misi Gulingkan Gus Dur yang Gagal Karena 1 Tatapan
Tahun 1994, Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya menjadi saksi salah satu muktamar paling panas dalam sejarah Nahdlatul Ulama.
Muktamar NU ke-29 itu bukan hanya ajang memilih pengurus. Ia berubah menjadi medan tarik-menarik politik yang melibatkan negara, kiai, dan para santri.
Di tengah suasana itu, berangkatlah KH Adnani Iskandar bersama rombongannya.
Tujuan mereka jelas dan tidak ditutup-tutupi.
Dalam sebuah pengakuan yang beliau sampaikan kemudian, KH Adnani bercerita:
“Dahulu kami berangkat ke Muktamar NU 1994 di Cipasung dengan satu misi: menggulingkan Gus Dur.
Kami mengusung calon dukungan pemerintah, yaitu Kiai Abu Hasan.”
Suasana di dalam aula pemungutan suara memang sangat panas.
Ketegangan terasa di setiap sudut. Setiap kali nama calon disebut oleh panitia, ruangan langsung bergemuruh.
Dari kubu petahana menggema yel-yel:
`“Gus Dur! Waliyyullah bin Waliyyullah bin Waliyyullah!”`
Dari kubu penantang tidak mau kalah, langsung menyahut:
`“Abu Hasan! Waliyyullah bin Waliyyullah bin Waliyyullah!”`
Sahut-sahutan itu terus terjadi, sampai suasana nyaris berubah menjadi baku hantam.
Di tengah kericuhan itulah, emosi KH Adnani memuncak.
Ada seorang di dekat beliau yang berteriak paling kencang membela Gus Dur.
“Ada seseorang di dekatku, paling keras bersuara, ‘Gus Dur, waliyyullah bin waliyyullah bin waliyyullah.’
Aku emosi. Aku teriaki ia. Aku usir supaya menjauh.
Dan setiap suara ‘Gus Dur’ yang keluar lengkap dengan yel-yelnya itu, aku selalu mengolok-ngolok. Terus menerus ku olok-olok.”
Beliau tidak sadar, olok-olok itu telah melewati batas adab kepada seorang wali.
Dan di saat itulah, Allah memperlihatkan kuasanya.
Pandangan KH Adnani terhenti pada sebuah spanduk besar yang tergantung di aula.
Di sana terpampang foto sang pendiri NU, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Tiba-tiba, gambar yang semula diam itu bergerak.
Tampak hidup. Berwibawa.
“Tiba-tiba gambar Kiai Hasyim Asy’ari di spanduk kulihat bergerak-gerak dan tampak hidup.
Beliau menatap ke arahku dengan marah, lalu menunjuk dengan telunjuknya tepat ke arahku.”
Seketika itu juga tubuh KH Adnani lemas. Tenaga seakan terkuras habis.
Kesadarannya hampir hilang.
Dengan langkah sempoyongan, beliau keluar dari ruangan untuk mencari udara.
Namun karena lemah, tanpa sadar tubuhnya terjatuh dan tercebur ke dalam kolam pesantren.
Peristiwa itu menjadi titik balik.
Ambisi politik yang membara padam dalam sekejap.
Yang tersisa hanyalah kesadaran dan rasa takut kepada para kekasih Allah.
Demikian kisah yang disampaikan KH Adnani Iskandar.
Sebuah karomah nyata di Muktamar NU 1994, yang menghentikan satu misi politik, dan membuka pintu tobat spiritual. Wallahu a’lam bishawab.












