Suara dari Perut Api: Catatan Mbah Rono tentang Anak Krakatau Kalian menyebutnya ‘bencana’. Saya menyebutnya ‘napas’.”

Tangerang – detikperistiwa.co.id

Mbah Rono duduk di beranda kayu rumahnya yang menghadap Selat Sunda. Usianya telah melewati delapan dekade, namun matanya masih setajam elang saat menatap pulau kecil yang berasap di kejauhan. Di tangannya, secangkir kopi tubruk hangat mengepul, bersaing dengan abu vulkanik tipis yang kadang terbawa angin malam.

Bagi dunia luar, Anak Krakatau adalah monster. Ia adalah data seismik, peringatan tsunami, dan zona merah evakuasi. Berita televisi selalu menampilkannya dengan grafik merah berkedip dan suara reporter yang panik. Tapi bagi Mbah Rono, dan bagi para leluhur yang tulang-belulangnya menyatu dengan tanah pesisir ini, Anak Krakatau bukanlah musuh. Ia adalah Sedulur saudara yang sedang marah, atau mungkin, sedang menangis.

“Orang kota takut pada gemuruhnya,” bisik Mbah Rono suatu malam ketika langit berubah jingga bukan karena matahari terbenam, melainkan karena lava yang menyembur. “Mereka lupa bahwa sebelum ia meletus, ia sudah memberi kita hidup. Tanah di sini subur bukan karena kebetulan. Abu yang mereka takuti itu adalah rahim bagi padi dan kopi yang kalian nikmati di cangkir pagi hari.”

Dalam kosmologi Mbah Rono, gunung api tidak pernah meletus tanpa alasan. Itu adalah bahasa. Ketika Anak Krakatau mengamuk, ia sedang berbicara tentang ketidakseimbangan. Bukan hanya ketidakseimbangan lempeng bumi di kedalaman ribuan meter, tetapi ketidakseimbangan antara manusia dan alam.

“Kami diajarkan untuk tidak membangun terlalu dekat dengan bibir kawah, bukan karena kami takut mati,” jelasnya suatu kali saat ditanya mengapa desa mereka tetap bertahan di zona rawan. “Tapi karena kami tahu batas. Gunung itu punya halaman sendiri. Jika kita menyerobot halamannya, wajar jika ia mengusir kita. Itu bukan hukuman, itu adalah teguran agar kita ingat tempat kita.”

Narasi Mbah Rono tentang Anak Krakatau juga penuh dengan duka yang sunyi. Ia mengingat tahun 1883, ketika Buyutnya menceritakan bagaimana laut menelan segalanya dalam hitungan menit. Ia mengingat 2018, ketika gelombang gelap datang tanpa peringatan sirene yang cukup cepat. Setiap letusan adalah pengingat bahwa manusia hanyalah tamu di planet ini. Tamu yang sopan akan permisi sebelum tuan rumah mengusir; tamu yang sombong akan dilempar keluar paksa.

Namun, di balik ketakutan itu, ada rasa hormat yang purba. Saat erupsi besar terjadi dan langit tertutup abu pekat, Mbah Rono tidak lari dengan panik. Ia melakukan ritual sederhana: menabur bunga di tepi pantai, membaca doa, dan meminta izin kepada “Eyang” di dalam gunung agar warganya diberi jalan selamat. Bagi orang luar, ini mungkin takhayul. Bagi Mbah Rono, ini adalah diplomasi spiritual. Ini adalah cara menjaga kewarasan di tengah kekacauan alam yang tak bisa dikendalikan oleh teknologi manapun.

“Anak Krakatau itu seperti anak muda yang sedang mencari jati diri,” pungkas Mbah Rono sambil menunjuk asap putih yang membumbung tinggi, membentuk kolom raksasa di atas cakrawala malam. “Ia tumbuh, ia berubah bentuk, ia menghancurkan dirinya sendiri untuk membentuk daratan baru. Ia mengajarkan kita bahwa kehancuran dan penciptaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kita tidak bisa meminta kehidupan tanpa menerima kemungkinan kematian.”

Malam itu, dentuman keras terdengar dari selat. Jendela rumah bergetar. Anjing-anjing menggonggong. Mbah Rono hanya tersenyum tipis, menyesap kopinya yang kini mulai dingin.

“Dia sedang bercerita lagi,” gumamnya pelan. “Dengarkanlah. Jangan hanya direkam kameramu. Dengarkan dengan hatimu. Karena setelah api padam dan abu turun, hanya cerita inilah yang akan tersisa untuk mengingatkan cucu-cucu kalian nanti: bahwa keindahan dunia ini dibeli dengan harga yang mahal, dan kita harus selalu siap membayar tagihannya dengan kerendahan hati.”

*Shen*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain