Berita  

Menembus Sunyi, Melantunkan Wahyu dengan Jemari

Semarang – detikperistiwa.co.id

Pertengahan September 2026. Di salah satu ruang pertemuan Hotel MG Setos, Jalan Gajahmada, keheningan justru terasa begitu bertenaga. Tidak ada alunan suara merdu dari pengeras suara yang biasa menyeruak di setiap sudut kota penyelenggara Musabaqoh Tilawatil Qur’an. Yang tertangkap oleh mata adalah gerak jemari yang lincah, ritmis, dan sarat getar emosi.

Di sinilah babak baru sejarah MTQ Nasional ke-31 dituliskan. Untuk pertama kalinya sejak ajang tertinggi umat Islam di negeri ini digelar, cabang Tartil Qur’an Isyarat bagi Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara resmi dibuka.

Langkah ini jauh melampaui sekadar seremoni. Berstatus sebagai ekshibisi—fase krusial untuk menguji, merumuskan standar, dan menyempurnakan sebelum dikukuhkan sebagai nomor tetap—ajang ini diikuti oleh 28 peserta putra dan putri. Mereka datang membawa asa yang menyala dari berbagai penjuru tanah air.

Jejak Panjang dari Berbagai Komunitas

Kehadiran para peserta ini merefleksikan gerakan literasi keagamaan akar rumput yang sudah lama berdenyut di berbagai daerah. Sebanyak 28 peserta tersebut merupakan utusan resmi dari 14 komunitas Tuli Muslim yang merentang dari barat hingga timur Indonesia, yaitu Majelis Taklim Tuli Indonesia di DKI Jakarta; Ibtisamah Mulia, Rumah Qur’an Isyarat Bandung, dan Rumah Tuli Jatiwangi di Jawa Barat; Rumah Qur’an Isyarat Banten; SLB Islam Qothrunnada dan Muslim Tuli Yogyakarta; Yayasan Pendidikan Tuli Magelang di Jawa Tengah; Komunitas Al-Qur’an Isyarat di Kediri dan Gresik; Cahaya Isyarat Islam Jambi; sejumlah komunitas dari Nusa Tenggara Barat; serta Rumah Qur’an Tuli Nusantara di Sulawesi Selatan.

Dengan Asosiasi Tuli Muslim Indonesia yang bertindak sebagai penanggung jawab teknis, keberadaan simpul-simpul komunitas ini menunjukkan bahwa kerinduan untuk memahami kitab suci tidak pernah surut meski terhalang batas-batas fisik.

Membedah Pesan Lewat Psikologi Komunikasi Massa

Apa yang terjadi di Semarang mengirimkan pesan kesetaraan yang sangat kuat. Selama puluhan tahun, media massa dan panggung publik keagamaan kerap memonopoli suara dalam format audio semata, yang secara tidak sadar meminggirkan kelompok disabilitas pendengaran.

Kehadiran cabang isyarat ini mengubah lanskap komunikasi tersebut. Panggung MTQ menjelma menjadi ruang amplifikasi sosial, di mana simbol-simbol visual diangkat sejajar dengan suara lisan. Melalui pendekatan ini, sekat mental di masyarakat diruntuhkan secara perlahan. Publik diajak memahami bahwa kalam ilahi meresap melalui medium apa saja, melampaui batas organ tubuh, dan menembus ruang-ruang sunyi yang selama ini terabaikan.

Penilaian Ketat dan Jalan Menuju Resmi

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, memandang momentum ini sebagai bagian dari perjalanan panjang dalam membuka akses yang berkeadilan bagi Muslim Tuli terhadap Al-Qur’an. Di atas panggung, para peserta berkompetisi dalam kategori kitabah dan tilawah dengan standar penilaian yang tidak kalah ketat dari kategori lainnya: ketepatan isyarat, kesesuaian harakat, tanda baca, hingga adab.

Sementara itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa status ekshibisi ini bukan sekadar pelengkap kemeriahan. Ini adalah tahap pengujian untuk memastikan apakah cabang ini siap dipelembagakan secara rutin di masa mendatang, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Langkah progresif ini juga melengkapi rekam jejak negara dalam merangkul kaum difabel. Selepas standarisasi Al-Qur’an Braille bagi penyandang disabilitas netra yang dirintis sejak tahun 1984, serta perhelatan akbar Musabaqah Hifdzil Qur’an Internasional di Tangerang pada akhir 2025 lalu, kini negara memperluas pelukan kasihnya kepada saudara-saudara kita yang Tuli.

Di Semarang, sunyi akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk bersuara, membuktikan bahwa cinta kepada Sang Pencipta tidak butuh suara untuk didengar, melainkan ketulusan hati yang terpancar lewat jemari.

– Pram –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain