Sosok Satria Budi, Dosen STIKes PNAD Asal Ketol yang Tak Ingin Dipanggil Bapak oleh Mahasiswa

BENER MERIAH – detikperistiwa.co.id

Ada hal menarik dari sosok Satria Budi, SKM., MKM., CPHP, salah seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Payung Negeri Aceh Darussalam (PNAD). Berasal dari Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, ia memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan dengan mahasiswa.

Berbeda dengan kebiasaan sebagian tenaga pendidik yang akrab disapa dengan panggilan “Bapak”, Satria justru tidak menginginkan mahasiswa memanggilnya demikian. Ia lebih nyaman membangun suasana komunikasi yang santai, akrab, dan penuh kekeluargaan.

Baginya, hubungan antara dosen dan mahasiswa tidak harus selalu dibatasi oleh formalitas panggilan. Rasa hormat tetap menjadi hal utama, tetapi kedekatan dan keterbukaan juga penting dalam proses pendidikan.

Sikap tersebut bukan berarti mengurangi penghormatan terhadap profesi dosen. Sebaliknya, ia ingin menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka agar mahasiswa tidak merasa canggung untuk berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat, bahkan berbagi persoalan akademik.

Sebagai seorang pendidik di bidang kesehatan masyarakat, Satria memandang bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi di ruang kelas, memberikan tugas, ataupun menilai hasil ujian. Lebih dari itu, pendidikan juga tentang membangun karakter, menumbuhkan kepercayaan diri, serta mendampingi mahasiswa dalam proses menemukan potensi terbaik mereka.

Bukan Sekadar Mengajar, tetapi Membangun Kedekatan

Bagi Satria, mahasiswa bukan hanya peserta didik yang datang ke kampus untuk mengikuti perkuliahan. Mereka merupakan generasi yang perlu dibimbing, didengarkan, dan diberikan kesempatan untuk berkembang.

Ia ingin mahasiswa merasa nyaman berada di lingkungan kampus, tanpa kehilangan batasan etika, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Latar belakangnya yang berasal dari Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, juga menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pengabdiannya di dunia pendidikan.

Melalui perannya sebagai dosen STIKes PNAD, ia berharap dapat ikut berkontribusi dalam mencetak generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

Menghormati Tidak Harus Berjarak

Sosok Satria Budi memberikan gambaran bahwa kedekatan antara dosen dan mahasiswa dapat dibangun melalui komunikasi yang baik. Panggilan boleh berbeda, tetapi rasa hormat, tanggung jawab, dan etika akademik harus tetap dijaga.

Sebab, pada akhirnya, seorang dosen tidak hanya dikenang dari seberapa banyak materi yang disampaikan di ruang kuliah, tetapi juga dari bagaimana ia mampu memberikan inspirasi, membangun semangat, dan meninggalkan kesan positif bagi mahasiswanya.

Baginya, menjadi dosen bukan sekadar berdiri di depan kelas, melainkan menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa dalam meraih masa depan.(#)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain