Pidie Jaya – detikperistiwa.co.id
Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Program Community Development Nasional Provinsi Aceh (CDNA-E) bekerja sama dengan LPDP tahun 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Pemulihan Psikososial Pascabencana Banjir melalui Program Adiwiyata dan Pendidikan Darurat sebagai Literasi Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana di SD Negeri Meureudu, Pidie Jaya, Provinsi Aceh.” Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 Mei 2026.
Program ini hadir sebagai bentuk kepedulian dunia pendidikan terhadap kondisi masyarakat pascabanjir, khususnya anak-anak sekolah dasar yang turut mengalami dampak psikologis akibat bencana. Melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan berbasis lingkungan, kegiatan ini bertujuan memulihkan semangat belajar, rasa aman, dan kepercayaan diri siswa, sekaligus menanamkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan serta memahami kesiapsiagaan bencana sejak usia dini.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan CDNA-E didampingi oleh enam dosen pembimbing lapangan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, yakni Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si., Dr. Syahrul Ridha, S.Pd., M.Pd., Dr. Irwan Putra, S.Pd., M.Pd., Puspita Annabi Kamil, S.Pd., M.Pd., Gracia Mandira, S.Pd., M.Ed., serta Hasniyati, M.Pd. Para dosen berperan aktif memberikan arahan, pendampingan, dan supervisi selama kegiatan berlangsung.
Selain melibatkan dosen, program ini juga diikuti oleh mahasiswa FKIP Universitas Syiah Kuala dari kolaborasi Departemen PPKn, Geografi, PAUD, dan PGSD. Kehadiran mahasiswa menjadi bagian penting dalam membangun interaksi yang hangat dan ramah anak selama proses pendampingan berlangsung.
Berbagai kegiatan edukatif dan menyenangkan dilaksanakan selama program berlangsung, mulai dari pendampingan psikososial bagi siswa, permainan edukasi, pembelajaran darurat berbasis lingkungan, sosialisasi mitigasi bencana, penanaman nilai peduli lingkungan melalui program Adiwiyata, hingga simulasi kesiapsiagaan bencana. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang dengan pendekatan yang humanis dan ramah anak agar siswa kembali merasa nyaman, aman, dan termotivasi untuk belajar setelah melewati situasi bencana.
Ketua pengabdian, Dr. Sanusi, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan psikologis siswa, tetapi juga membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga lingkungan sebagai langkah pencegahan terhadap risiko bencana di masa depan.
“Pendidikan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana perlu ditanamkan sejak dini agar lahir generasi yang lebih peduli, tanggap, dan siap menghadapi kondisi darurat,” ujarnya.
Melalui program CDNA-E ini, diharapkan para siswa dapat kembali bersemangat dalam belajar sekaligus memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Semangat kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam program USK–LPDP ini menjadi bukti nyata bahwa dunia pendidikan memiliki peran penting dalam membantu masyarakat bangkit pascabencana.
Program ini juga menjadi langkah bersama dalam memperkuat literasi lingkungan, membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah, serta menumbuhkan harapan baru bagi anak-anak yang terdampak bencana banjir di Aceh.
Detik Peristiwa












