Aceh Harus Membangun Pusat Inovasi Benih Modern

Bireuen – detikperistiwa.co.id

Arizal Mahdi menilai inovasi pertanian dan riset benih dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, serta menjadikan Aceh sebagai pusat pertanian masa depan di Asia Tenggara.

BANDA ACEH — Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dunia dan tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap masyarakat pedesaan, Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, menilai Aceh memiliki potensi besar untuk bangkit melalui sektor pertanian berbasis teknologi, riset, inovasi, dan pengembangan benih berkualitas tinggi.

Di saat rantai pasok pangan global terus menghadapi berbagai tekanan, wilayah yang memiliki potensi pertanian kuat kini menjadi sangat strategis dalam membangun ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan.

Ia menegaskan bahwa Aceh tidak boleh terus berada hanya sebagai konsumen produk pertanian dari daerah lain maupun pasar luar negeri. Provinsi yang sejak lama dikenal memiliki tanah subur dan sumber daya alam melimpah itu dinilai sudah siap membangun pusat riset dan produksi benih terpadu seperti yang dikembangkan di Malaysia.

Di banyak desa di kawasan Aceh, para petani masih bekerja dengan keterbatasan akses terhadap peralatan modern, benih unggul, teknologi pertanian, dan peluang pasar. Pada saat yang sama, semakin banyak generasi muda mulai meninggalkan sektor pertanian karena dianggap belum mampu memberikan keamanan dan peluang ekonomi jangka panjang.

“Pertanian bukan sekadar tentang menanam dan memanen. Pertanian adalah tentang masa depan keluarga, lapangan pekerjaan, ketahanan pangan, dan harapan hidup masyarakat,” ujar Arizal Mahdi.

Ia meyakini bahwa Aceh memiliki seluruh fondasi yang diperlukan untuk berkembang menjadi salah satu koridor inovasi pertanian masa depan di Asia Tenggara, apabila didukung oleh riset, teknologi, serta keberanian membangun industri pertanian terpadu dari sektor hulu hingga hilir.

Bagi Arizal, masa depan pertanian tidak lagi ditentukan semata-mata oleh luasnya lahan, tetapi oleh inovasi, ilmu pengetahuan, dan kemampuan mengubah masyarakat pedesaan menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pembangunan pusat inovasi benih modern dapat menjadi titik awal lahirnya ekosistem ekonomi baru di Aceh — mulai dari riset pertanian, pembibitan, jaringan distribusi, hingga industri pengolahan hasil panen yang mampu menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Jika Aceh berhasil membangun industri benih sendiri, maka kita bukan hanya menghasilkan panen yang lebih baik, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi rakyat,” katanya.

Ia juga menilai kedekatan geografis Aceh dengan Malaysia merupakan keuntungan strategis besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan teknologi pertanian yang kuat, sistem pertanian berkelanjutan, dan standar produksi yang kompetitif secara internasional, produk pertanian Aceh dinilai memiliki peluang besar memasuki pasar ekspor di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.

“Malaysia membutuhkan pasokan pangan dan produk hortikultura dalam jumlah besar. Aceh memiliki tanah yang subur dan lokasi yang sangat strategis. Ini adalah peluang ekonomi yang harus diperjuangkan,” tambahnya.

Bagi Arizal, membangun industri benih bukan hanya tentang meningkatkan hasil produksi pertanian, tetapi juga tentang menjaga martabat petani dan memungkinkan masyarakat pedesaan memperoleh masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan dari tanah yang mereka kelola.

Ia berharap sektor pertanian di Aceh dapat kembali menjadi sumber harapan dan peluang bagi generasi muda, bukan menjadi sektor yang ditinggalkan akibat minimnya prospek dan dukungan pembangunan.

Menurutnya, Aceh membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, investor, dan masyarakat untuk membangun industri pertanian yang kuat, mandiri, mampu bersaing di pasar internasional, serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan kawasan.

“Kita ingin melihat petani hidup lebih sejahtera, anak-anak muda mendapatkan pekerjaan yang bermakna di tanah kelahirannya sendiri, dan produk pertanian Aceh dikenal di pasar dunia,” tutup Arizal Mahdi.

Bagi Arizal, masa depan Aceh tidak hanya akan dibangun di kota-kota dan kantor pemerintahan, tetapi juga di ladang-ladang subur tempat ilmu pengetahuan, teknologi, dan ketangguhan rakyat bersatu untuk membentuk era baru transformasi ekonomi, kemajuan sosial, dan kesejahteraan berkelanjutan bagi generasi masa depan.

Detik Peristiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain