Makassar, detikperistiwa.co.id – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar menggelar Dialog Kerukunan bagi Tokoh Perempuan Lintas Agama Tahun 2026 di Hotel Sultan Alauddin, Makassar, Jumat (5/6/2026). Kegiatan ini mengangkat tema “Beragama Maslahat Dan Berkebudayaan. Maju Untuk Makassar Mulia”.
Wakil Ketua FKUB Makassar yang juga Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Kasi PD Pontren) Kementerian Agama Kota Makassar, H. Hasan Pinang, mengatakan dialog tersebut merupakan kegiatan kedua FKUB tahun ini. Sebelumnya, kegiatan serupa menyasar para tokoh agama dan pimpinan organisasi keagamaan.
“Kalau bicara moderasi dan kerukunan beragama, semuanya harus dimulai dari ibu. Karena ibu adalah pendidik pertama dalam rumah tangga,” kata Hasan.
Menurut Hasan, perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda, terutama di tengah derasnya arus informasi di era digital.
Ia menilai upaya menjaga kerukunan tidak cukup hanya dilakukan melalui sosialisasi kepada orang dewasa. Peran ibu dinilai menjadi kunci dalam membentuk karakter anak sejak dini.
“Generasi muda hari ini hidup di dunia digital. Karena itu, ibu-ibu menjadi sangat menentukan dalam menyampaikan nilai toleransi dan kerukunan kepada anak-anak,” ujarnya.
Hasan mengungkapkan FKUB bersama sejumlah pemangku kepentingan tengah menyiapkan program edukasi moderasi beragama yang menyasar dunia pendidikan.
Salah satu gagasan yang sedang didorong adalah pembuatan konten edukatif berbasis video animasi agar pesan toleransi lebih mudah diterima anak-anak.
“Kami ingin menghadirkan materi yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga mudah dipahami dan menjadi konsumsi positif bagi anak-anak,” jelasnya.
Selain itu, FKUB juga terus mendorong pemanfaatan layanan digital melalui aplikasi dan website “Makassar Sikatutui” yang memuat berbagai layanan keagamaan, termasuk pengurusan pendirian rumah ibadah dan pengaduan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, M.Kes, menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar.
Menurut Ita, perempuan bukan hanya berperan sebagai agen perdamaian, tetapi juga menjadi benteng utama dalam melindungi anak dari berbagai ancaman sosial.
“Perempuan adalah pendidik pertama dalam keluarga. Karena itu, perannya sangat penting dalam menjaga anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan,” ujarnya.
Ita mengungkapkan sepanjang tahun 2025 terdapat 122 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang ditangani. Dari jumlah tersebut, sekitar 69 persen merupakan kasus yang menimpa anak-anak.
Yang memprihatinkan, sebagian besar korban merupakan anak perempuan.
“Kita harus bergerak bersama. Jangan ada lagi kasus yang disembunyikan karena rasa takut atau malu. Korban harus berani melapor agar pelaku mendapat efek jera,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan banyak kasus kekerasan seksual yang justru dilakukan oleh orang-orang terdekat korban, termasuk ayah kandung, ayah tiri, kakek hingga lingkungan sekitar.
Karena itu, Ita mengajak seluruh tokoh perempuan lintas agama untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan keluarga sekaligus mengawasi tumbuh kembang anak.
Dialog tersebut dihadiri perwakilan organisasi perempuan dari berbagai agama, penyuluh agama, akademisi, serta sejumlah instansi pemerintah. Kegiatan itu menjadi wadah memperkuat sinergi dalam menjaga kerukunan umat beragama sekaligus melindungi perempuan dan anak di Kota Makassar.












