Bener Meriah – detikperistiwa.co.id
Ternyata nama tajuk seperti yang di kutip dari Acoun Media sosial Facebook Tajuk Ginjang hari Rabu 10/6/2026. yang di jelaskan salah satu Natizen dalam Komentar nya atas Bener Putra ternyata
Enang‑Enang berasal dari bahasa Gayo,Enang artinya “berhenti sejenak”, “beristirahat”, atau “berteduh”. Dulu tempat ini adalah persinggahan wajib bagi orang yang berjalan kaki maupun naik kuda dari pesisir (Bireuen/Pidie) saat itu menuju dataran tinggi Gayo (Bener Meriah, Takengon),
Tajuk Enang Enang sebaliknya di pungsikan sebagai tempat istirahat, makan, minum, dan berteduh sebelum melanjutkan perjalanan berat mendaki gunung atau menuruni lembah masa itu.
Tajuk enang Enang bagian dari Jalur Sejarah Kuno bagi masyarakat Gayo karna di gunakan
Sebagai jalur perhubungan tertua masyarakat Gayo dan pesisir Aceh yang, sudah dipakai ratusan tahun sebelum ada keberadaan jalan raya modern dibangun seperti saat ini. Karna Jalurnya melintasi hutan lebat, lereng curam, dan perbatasan wilayah adat.
Fungsi utama zaman dulu:
– Jalur perdagangan: Mengangkut kopi, kemenyan, rempah, hasil hutan dari Gayo ke pesisir; membawa garam, kain, barang kebutuhan dari pesisir ke pedalaman.
– Jalur adat & pemerintahan: Tempat raja, pemangku adat, dan utusan berpergian; batas wilayah antar suku/desa ditandai di sini.
– Jalur pertahanan: Saat perang atau penjajahan, jalur ini jadi tempat pertahanan dan penyembunyian.
Zaman Kolonial & Pembukaan Jalan
Tahun 1902–1910, Belanda mulai membuka jalan darat resmi dari Bireuen ke Takengon, namun jalur Enang‑Enang tetap jadi rute alternatif dan jalur adat yang tak tergantikan. Di sini pernah ada pos pengawas, tempat istirahat resmi, dan penanda batas wilayah kekuasaan.
Makna Adat & Budaya
Bagi MHA Gayo, Enang‑Enang bukan sekadar jalan, tapi simbol identitas, perjuangan, dan persatuan. Di sana ada aturan adat, pepatah, dan kisah turun‑temurun tentang persaudaraan, saling bantu, dan menjaga tanah leluhur.
Kondisi & Makna Saat Ini
Jalur ini sempat rusak parah dan terputus selama 7 bulan akibat longsor dan kerusakan alam, dibiarkan tanpa perbaikan dari pemerintah.
Kisah ini jadi simbol:
“Pemerintah butuh lama dan biaya besar, tapi kami MHA Gayo — masyarakat adat — cukup 4 hari untuk membuka kembali jalur sejarah ini. Ini bukti kami masih punya kekuatan, pengetahuan, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur, meski ditinggalkan.”
Enang‑Enang sekarang jadi lambang Rencong Rimba yang bangkit: jalur sejarah, jalur perlawanan, dan bukti bahwa masyarakat adat Gayo masih berdaulat atas tanah dan jalur warisan mereka.
Dik.Benner putra












