Semarang – detikperistiwa.co.id
Kabut tipis pagi baru saja terangkat dari rimbunnya dedaunan di Mijen, kawasan pinggiran Kota Semarang yang tenang, ketika sebuah pesan tak biasa mulai digaungkan. Rangkaian kegiatan di Kantor Urusan Agama (KUA) Mijen pada Jumat (7/8/2026) itu diawali dengan senam sehat pagi yang mencairkan suasana, berlanjut pada aksi kerja bakti membersihkan sudut-sudut kantor, hingga bermuara pada agenda inti: pembinaan langsung dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad.
Di hadapan puluhan penyuluh dan pegawai yang masih berpeluh usai kerja bakti, Abu Rokhmad hadir meresmikan gerakan Gemah Asri—sebuah akronim dari Gerakan Jumat Aman, Sehat, Resik, dan Indah. Melalui slogan ini, ajaran keagamaan ditarik keluar dari ruang ritual formal menuju aksi nyata kemasyarakatan.
Namun, alih-alih menyampaikan ceramah moral konvensional yang kerap memicu kebosanan atau benteng pertahanan diri (defensiveness) pendengar, ia menggunakan pendekatan komunikasi massa yang menusuk kesadaran: mengangkat krisis sampah di sekitar tempat ibadah.
“Soal sampah sudah seharusnya kita peduli,” tegasnya. “Seolah-olah urusan sampah ini tidak punya pemimpin, berjalan sendiri-sendiri tanpa arah.”
Pernyataan ini merupakan strategi pembingkaian ulang (reframe) pesan keagamaan yang efektif. Dengan mengaitkan doktrin kesucian iman pada realitas sampah harian melalui wadah Gemah Asri, narasi pembinaan tidak lagi terdengar sebagai instruksi birokrasi yang kaku, melainkan imbauan moral yang menyentuh ranah emosional dan kesadaran afektif pendengar.
Dalam kesempatan tersebut, Abu Rokhmad menegaskan kembali empat peran kunci pembina masyarakat untuk menggerakkan kesadaran baru ini:
Manajerial: Merancang dan mengendalikan tata kelola program keagamaan warga.Penggerak: Menjadi motor perubahan sosial dan pemulihan kemandirian warga.Pembimbing: Menjadi tempat aduan kerohanian dan penasihat warga.
Pemberi Pencerahan: Memberikan sudut pandang hukum keagamaan untuk persoalan harian.
Secara psikologi komunikasi, pembinaan ini bekerja meredefinisi identitas diri para penyuluh. Mereka tidak lagi diposisikan sekadar sebagai penceramah dari balik mimbar yang berdebu, melainkan sebagai agen perubahan yang hadir menyelesaikan krisis riil warga.
Pemilihan KUA Mijen sebagai tempat kegiatan semakin memperkuat efek pesan melalui bukti nyata . Berdiri di atas lahan yang amat terbatas di antara jalan raya provinsi dan pusat layanan kesehatan, kantor ini berhasil menyulap sudut-sudut betonnya menjadi kebun produktif tanaman buah dan sayur. Bukti fisik dari kerja bakti dan ruang hijau ini meruntuhkan jarak antara wacana dan realitas, memudahkan masyarakat untuk meniru perilaku positif tersebut.
Saat agenda pembersihan tempat ibadah dalam skala yang lebih luas mulai dirancang, pesan dari Mijen lewat gerakan Gemah Asri ini bergema kian nyaring: ukuran kedalaman iman seseorang kini tak lagi terbatas pada riuk doa di dalam ruangan, melainkan pada seberapa bersih bumi yang dijaganya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para pejabat kementerian tingkat pusat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, jajaran Bimbingan Masyarakat Islam, para penyuluh agama, penghulu, serta seluruh staf pelaksana.
-pram-













