Berita  

Berjalan Bertumpu Kaki Palsu, Hidup Bersama Istri — Namun Belum Pernah Tersentuh Bantuan

Jember – detikperistiwa.co.id

Setiap langkahnya butuh perjuangan. Seorang warga Desa Patemon, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember berjalan menopang kaki palsu demi menafkahi rumah tangga bersama istrinya. Namun di tengah keterbatasan fisik yang menyertai setiap hari, ada satu hal yang semakin membebani hatinya: selama ini ia belum pernah sekalipun menerima bantuan sosial dari pemerintah. Alasannya tertulis rapi di data, desil ekonominya masuk kategori 6–10 dianggap tidak membutuhkan.

Langkah Berat yang Tak Dilihat Angka

Dengan kaki buatan, mencari nafkah bukan hal yang mudah. Tenaga cepat habis, pergerakan terbatas, dan penghasilan tak menentu. Hanya berdua dengan istrinya, tak ada sandaran lain. Namun setiap kali pembagian bantuan tiba, namanya tak pernah tercantum.

“Saya berjalan pakai kaki palsu. Tidak bisa kerja berat seperti bapak-bapak lain. Kadang ada, kadang tidak ada penghasilan. Tapi kenapa desil kami 6–10, bukan prioritas. Padahal siapa yang tahu rasanya berjuang setiap hari?” ucap Slamet dengan suara tertahan. Rabu 30 September 2026.

Beliau menatap lurus ke depan, menahan sedih. “Kami tidak meminta kemewahan. Cukup agar kami tidak merasa sendirian. Bahwa ada yang tahu, ada yang peduli.”

Di Atas Kertas “Layak”, Di Kenyataan Sangat Terbatas

Sistem penilaian desil memang bertujuan memilah kelompok paling rentan. Namun bagi keluarga kami, angka tak mampu menceritakan kenyataan sesungguhnya:

Keterbatasan fisik membatasi jenis pekerjaan dan jam kerja yang bisa dilakukan.
Perawatan, perbaikan kaki palsu, dan kebutuhan khusus tak terhitung dalam indikator ekonomi.
Hanya berdua, tak ada anggota keluarga lain yang dapat diandalkan.
Secara tampilan mungkin terlihat biasa, namun kemampuan bertahan hidup sangat tipis

Harapan Sederhana: Datang Melihat Langsung

Permohonan mereka sangat sederhana: agar pemerintah turun ke lapangan, datang ke rumah mereka, melihat langsung bagaimana mereka menjalani hari. Bukan hanya menilai dari data yang tertulis di meja.

“Kami tidak minta diistimewakan. Cukup dinilai apa adanya. Kalau saya berjalan susah, mencari nafkah susah, bukankah itu berarti saya butuh perhatian? Biarlah ada yang datang, melihat, mendengar kami,” tambahnya.

Kemanusiaan didahulukan sebelum angka. Semangat yang sama diharapkan sampai ke Patemon. Agar beliau yang berjalan dengan kaki palsu ini tidak lagi menunggu sendirian. Agar ia tahu: negara tahu ia ada di sini, berjuang setiap hari.

Bantuan bukan soal angka di atas kertas. Bantuan adalah untuk mereka yang sungguh-sungguh berjuang, bahkan untuk sekadar melangkah.(AR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain