Detikperistiwa.co.id – LOMBOK TIMUR – Pemerintah bersama Polri mempercepat pengembangan komoditas bawang putih di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kawasan Sembalun dipandang memiliki prospek besar untuk menjadi salah satu pusat produksi dalam upaya mengembalikan kemandirian bawang putih nasional.
Langkah tersebut mengemuka dalam kegiatan tanam dan panen bawang putih yang berlangsung di Sembalun. Sejumlah pejabat pusat dan daerah hadir dalam agenda yang menjadi bagian dari program penguatan ketahanan pangan nasional.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo turut memberikan pin emas kepada Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal dan Bupati Lombok Timur Haerul Warisin. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk penghormatan atas dukungan keduanya terhadap program percepatan swasembada bawang putih.
Menurut Listyo Sigit, Indonesia memiliki pengalaman sebagai negara yang mampu menghasilkan bawang putih dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dinilai dapat kembali diwujudkan apabila seluruh pihak konsisten mengembangkan produksi dari hulu hingga hilir.
Ia menilai penggunaan benih berkualitas menjadi salah satu faktor penting yang perlu dibuktikan melalui hasil panen. Program yang berjalan tahun ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui pengembangan varietas dan teknologi pertanian.
“Kita ingin melihat hasil dari bibit-bibit terbaik yang sudah dikembangkan. Harapannya Indonesia bisa kembali memenuhi kebutuhan bawang putih dari produksi sendiri,” ujar Listyo Sigit.
Polri menjalankan program tersebut melalui jajaran di 14 Polda. Di antara wilayah yang terlibat, NTB tercatat memiliki kontribusi besar dengan areal penanaman sekitar 120 hektare dan potensi produksi mencapai 1.200 ton.
Sementara itu, kegiatan panen di Sembalun menghasilkan sekitar 105 ton dari lahan yang dikelola sembilan kelompok tani. Potensi produksi kawasan tersebut diperkirakan mencapai 150 ton.
Kakorbinmas Polri Irjen Pol Mardiono mengatakan keberadaan Satgas Percepatan Swasembada Bawang Putih Nasional Polri diarahkan untuk memperkuat pendampingan kepada petani.
Koordinasi dilakukan bersama Dinas Pertanian, pemerintah daerah, dan kelompok tani agar proses budidaya dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Pendampingan tidak berhenti pada penanaman. Satgas akan terus mengawal sampai panen agar produktivitas dalam negeri dapat terus ditingkatkan,” ujar Mardiono.
Pengembangan bawang putih di Sembalun juga dilakukan secara bertahap. Kapolda NTB Irjen Pol R. Umar Kalingga menyampaikan, kerja sama dengan kelompok tani telah dimulai sejak 2025 melalui pengembangan lahan seluas 15 hektare.
Dari pemetaan kawasan, Sembalun memiliki potensi lahan sekitar 604 hektare. Penanaman kemudian diperluas secara bertahap dan disertai pengembangan kawasan produksi.
Untuk mendukung petani, pemerintah menyediakan sejumlah sarana dan prasarana pertanian. Fasilitas tersebut mencakup kebutuhan produksi, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pembangunan gudang untuk mendukung penyimpanan hasil panen.
Penguatan produksi juga mendapat dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp55,65 miliar untuk pengembangan bawang putih di Sembalun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan peningkatan produksi harus dibarengi dengan kepastian ketersediaan benih. Pemerintah akan mengutamakan pemenuhan dari produksi domestik, tetapi tetap mempertimbangkan impor apabila kebutuhan benih belum dapat dipenuhi di dalam negeri.
“Kalau ketersediaan benih dalam negeri belum mencukupi, kami akan mengupayakan dari luar,” kata Amran saat mengunjungi Sembalun, Rabu (19/8/2026).
Dorongan untuk meningkatkan produksi semakin penting karena kebutuhan bawang putih nasional masih sangat besar. Produksi domestik saat ini berada di kisaran 39 ribu hingga 40 ribu ton per tahun, sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 600 ribu ton.
Akibat kesenjangan tersebut, impor masih menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan nasional dengan tingkat ketergantungan diperkirakan mencapai 90 hingga 95 persen.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan kondisi alam Sembalun menjadi salah satu alasan kawasan tersebut dipilih untuk memperkuat produksi bawang putih. Suhu udara yang relatif sejuk dan intensitas cahaya matahari yang memadai dinilai sesuai untuk pertumbuhan komoditas tersebut.
“Karakteristik Sembalun sangat mendukung bawang putih. Tanaman ini membutuhkan suhu dingin dan sinar matahari yang cukup,” ujar Zulhas.
Ia juga menilai pengalaman petani lokal menjadi modal penting. Budidaya bawang putih telah menjadi bagian dari aktivitas pertanian masyarakat Sembalun selama bertahun-tahun.
Pemerintah berharap dukungan benih unggul, pupuk, teknologi, pembiayaan, dan fasilitas pascapanen dapat mendorong petani meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas area budidaya.
Secara nasional, program penanaman bawang putih tersebut mencakup potensi lahan sekitar 2.593,1 hektare di 17 provinsi. Di Sembalun, kegiatan juga dirangkaikan dengan panen bawang putih dan peresmian gudang ketahanan pangan Polri.
Pengembangan kawasan tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempersempit kesenjangan produksi dan kebutuhan bawang putih. Jika produktivitas terus meningkat, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Sembalun pun kini bukan hanya menjadi sentra pertanian dataran tinggi di NTB, tetapi turut ditempatkan sebagai salah satu kawasan yang diharapkan mampu mendorong Indonesia kembali menuju swasembada bawang putih.(red)












