Keuchik Ulee Ceu Minta Pemulihan Lahan Dipercepat, RPRLB Dorong Pemerintah Turun ke Lapangan

Bireuen – detikperistiwa.co.id

Sepuluh bulan pasca banjir, lumpur dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, dampak bencana masih dirasakan masyarakat.

Salah satu persoalan yang hingga kini dihadapi warga adalah kondisi lahan pertanian yang tertimbun material lumpur dan tanah. Material yang terbawa saat bencana tersebut kini telah mengering dan mengeras sehingga menyulitkan sebagian petani untuk kembali mengolah lahan mereka.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sektor pertanian merupakan salah satu sumber utama mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Jangka. Ketika lahan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, dampaknya tidak hanya dirasakan terhadap produksi pertanian, tetapi juga terhadap pendapatan keluarga petani.

Keuchik Gampong Ulee Ceu, Azwani, mengatakan masyarakat masih membutuhkan perhatian dan penanganan terhadap dampak pascabencana, khususnya pemulihan lahan pertanian yang tertimbun lumpur dan tanah.

Menurut Azwani, persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini bukan lagi hanya mengenai banjir yang telah surut, tetapi bagaimana mengembalikan kondisi lahan agar dapat kembali digunakan sebagai sumber penghidupan.

“Dampak banjir masih dirasakan masyarakat sampai sekarang, terutama bagi petani yang lahannya tertimbun lumpur dan tanah. Lahan tersebut membutuhkan penanganan agar dapat kembali dimanfaatkan,” ujar Azwani.

Ia berharap pemerintah dapat melakukan pendataan dan pemeriksaan langsung di lapangan untuk mengetahui kondisi lahan serta kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Perhatian terhadap kondisi tersebut juga disampaikan Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB), Arizal Mahdi.

Arizal meminta pemerintah tidak hanya melihat persoalan pascabencana dari sisi bantuan darurat. Menurutnya, masyarakat yang menggantungkan hidup dari pertanian membutuhkan dukungan sampai mereka benar-benar mampu kembali mengolah lahan dan memperoleh penghasilan.

“Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan ketika bencana terjadi. Setelah banjir surut, mereka masih harus menghadapi dampak yang tersisa, termasuk lahan pertanian yang tertimbun lumpur dan tanah. Kalau lahan tidak dipulihkan, petani akan kesulitan kembali membangun sumber penghidupannya,” kata Arizal.

Ia mendorong Pemerintah Kabupaten Bireuen, Pemerintah Aceh dan instansi terkait untuk turun langsung melakukan verifikasi dan asesmen terhadap lahan pertanian yang terdampak.

Pendataan tersebut dinilai penting untuk mengetahui luas lahan yang tertimbun, kondisi material lumpur dan tanah, jumlah petani yang terdampak serta bentuk penanganan yang paling dibutuhkan.

Selain pembersihan dan pemulihan lahan, Arizal juga mendorong adanya bantuan benih, pupuk, sarana produksi pertanian dan program pemulihan ekonomi bagi masyarakat yang mengalami gangguan mata pencaharian akibat bencana.

Menurutnya, pemulihan lahan pertanian juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan masyarakat.

Ketika petani tidak dapat mengolah lahannya, kemampuan keluarga untuk menghasilkan pangan dan memperoleh pendapatan ikut terganggu. Karena itu, pemulihan lahan harus menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana.

“Ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan pangan. Petani harus dibantu agar kembali mampu memproduksi pangan. Kalau lahan sudah pulih dan bisa ditanami kembali, masyarakat memiliki kesempatan untuk bangkit secara mandiri,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada pertanian, lahan bukan sekadar tempat bercocok tanam. Dari lahan itulah mereka memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarga dan mempertahankan kehidupan.

Karena itu, sepuluh bulan setelah bencana berlalu, pekerjaan pemulihan bagi sebagian masyarakat masih belum selesai.

Pemerintah Gampong Ulee Ceu berharap persoalan tersebut mendapat perhatian melalui verifikasi, asesmen teknis dan penanganan langsung di lapangan agar lahan yang terdampak dapat kembali dimanfaatkan dan masyarakat dapat memulihkan sumber penghidupannya.

Bencana mungkin telah berlalu, tetapi bagi sebagian petani di Kecamatan Jangka, perjuangan untuk bangkit masih berlangsung di atas lahan yang belum sepenuhnya pulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain