
KH. HASAN GIPO, KETUA PBNU PERTAMA, SANG PEMBERANI YG MEMBUAT CIUT NYALI GEMBONG PKI, MUSSO
Di masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama, perjuangan para ulama bukan hanya berlangsung di pesantren. Mereka juga harus berhadapan dengan berbagai arus pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk propaganda komunisme dan ateisme.
Salah satu fragmen yang paling menggugah adalah kisah KH. Hasan Gipo, Ketua Tanfidziyah PBNU pertama pada 1926, ketika berhadapan dengan Musso, tokoh PKI yang dikenal keras, berangasan, dan gemar berdebat.
Dalam sebuah perdebatan tentang keberadaan Tuhan, Musso berhadapan dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Perdebatan semakin panas. Musso bukan hanya mengandalkan argumentasi, tetapi juga sikap keras dan intimidasi.
Kiai Wahab akhirnya memilih menghentikan perdebatan. Bukan karena takut, tetapi karena menurutnya, perdebatan seharusnya mencari kebenaran dengan akal, hujjah, dan akhlak, bukan dengan adu otot.
Di situlah KH. Hasan Gipo maju mengambil alih.
Hasan Gipo dikenal sebagai sosok yang serba bisa. Saudagar besar Surabaya sekaligus aktivis pergerakan, ia mampu menghadapi lawan dengan kepala dingin, tetapi juga tidak gentar ketika situasi berubah menjadi keras.
Musso terus mempertanyakan keberadaan Tuhan dan menuntut bukti secara empiris.
Hasan Gipo kemudian mengajukan tantangan yang sangat ekstrem.
Ia mengajak Musso menuju jalur kereta api Surabaya–Batavia di sekitar Krian. Keduanya diminta menunggu kereta ekspres yang melaju kencang, kemudian meletakkan leher di atas rel.
Logikanya sederhana sekaligus mengguncang ” jika benar2 Kau yakin tidak ada Tuhan dan tidak takut mati, mengapa harus takut menghadapi kematian?
Kisah ini dicatat NU Online sebagai salah satu fragmen perdebatan antara Hasan Gipo dan Musso.
Dan di sinilah keberanian itu diuji.
Musso yang dikenal garang di atas panggung ternyata tidak menerima tantangan tersebut. Sosok yang sebelumnya lantang berdebat mendadak berhadapan dengan pertanyaan yang bukan lagi sekadar teori, tetapi menyentuh keberanian menghadapi kematian.
Kisah Hasan Gipo ini bukan sekadar cerita tentang siapa yang lebih hebat dalam berdebat.
Lebih jauh, kisah ini menggambarkan keteguhan seorang ulama dalam mempertahankan keyakinan.
Hasan Gipo menunjukkan bahwa menjadi pemimpin umat tidak cukup hanya pandai berbicara. Seorang pemimpin harus memiliki keberanian, keteguhan hati, dan kesiapan berdiri paling depan ketika keyakinan dan masyarakat yang dibelanya menghadapi tantangan.
Ia bukan sekadar Ketua PBNU pertama.
Ia adalah gambaran keberanian generasi awal NU ketika membela keyakinan membutuhkan nyali, keteguhan, dan keberanian untuk berdiri paling depan.
Lahu Al fatihah
#kyai #nu
Penulis: MUJIHARTONO
Editorial : Kaperwil Jateng












