Banda Aceh – detikperistiwa.co.id
Masyarakat wilayah barat–selatan Aceh mempertanyakan kejelasan kelanjutan proyek pembangunan Terowongan Geurutee yang hingga kini belum menunjukkan progres signifikan, meski telah lama masuk dalam agenda pembangunan infrastruktur strategis.
Desakan tersebut menguat di tengah kondisi jalur lintas barat–selatan Aceh, khususnya di kawasan pegunungan Geurutee, yang masih dikenal rawan kecelakaan serta memiliki tantangan geografis ekstrem.
Bagi masyarakat, proyek ini bukan sekadar rencana pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan publik dan kelancaran aktivitas ekonomi antarwilayah.
“Sudah terlalu lama hanya wacana. Kami butuh kepastian, bukan sekadar rencana,” ujar Fauzan (42), sopir angkutan barang asal Aceh Jaya yang rutin melintasi jalur tersebut.
Ancaman Nyata di Lapangan
Kondisi jalan di kawasan Geurutee menjadi perhatian serius, terutama saat musim hujan. Warga menyebut, jalur tersebut kerap mengalami gangguan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Kalau musim hujan, sering kayu tumbang ke jalan, bebatuan jatuh dari tebing. Jalan jadi licin, sempit, dan sering macet. Itu sangat berbahaya, apalagi kalau malam hari,” kata Mursalin (35), pengendara asal Aceh Barat.
Menurut warga, kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, khususnya bagi kendaraan roda dua dan angkutan logistik yang melintasi jalur tersebut setiap hari.
Data Satuan Lalu Lintas menunjukkan, wilayah Kabupaten Aceh Jaya yang mencakup jalur Geurutee mencatat puluhan kasus kecelakaan setiap tahunnya. Pada semester pertama 2022 saja, tercatat sebanyak 52 kasus kecelakaan, sementara pada periode sebelumnya jumlah kasus mencapai 64 kejadian dengan 23 korban meninggal dunia.
Sejumlah insiden bahkan melibatkan kendaraan yang terjun ke jurang di kawasan pegunungan Geurutee, yang mengakibatkan korban jiwa dan luka berat. Kondisi ini mempertegas bahwa jalur tersebut merupakan salah satu titik rawan kecelakaan di lintas barat Aceh.
Proyek Strategis yang Masih Tertahan
Rencana pembangunan Terowongan Geurutee telah lama menjadi bagian dari upaya penguatan konektivitas wilayah di Aceh. Pemerintah pusat melalui Kementerian PPN/Bappenas sebelumnya telah menurunkan tim untuk meninjau langsung lokasi rencana pembangunan di kawasan perbatasan Aceh Besar dan Aceh Jaya.
Selain itu, Kementerian Pekerjaan Umum bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh juga telah terlibat dalam proses perencanaan teknis.
Namun hingga kini, proyek tersebut masih berada pada tahap kajian dan perencanaan lanjutan, serta belum memasuki fase konstruksi.
Investor Siap, Menunggu Kepastian Pemerintah
Sinyal positif datang dari pihak investor yang disebut siap untuk kembali melanjutkan pembahasan proyek Terowongan Geurutee. Kesiapan tersebut disampaikan melalui Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, yang selama ini turut menjembatani komunikasi dengan calon investor.
Menurutnya, investor pada prinsipnya siap mengambil langkah lebih lanjut apabila terdapat kejelasan dari Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat, terutama terkait skema pendanaan dan kepastian perjanjian kerja sama.
“Investor siap untuk action jika proyek ini benar-benar dilanjutkan. Termasuk dalam hal pendanaan dan perjanjian, semua masih bisa dibahas. Kita bisa duduk bersama untuk mencari solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak,” ujarnya.
Namun hingga kini, belum terdapat pernyataan resmi tertulis dari pihak investor terkait komitmen tersebut.
Ia menambahkan, ruang dialog yang terbuka dan konstruktif menjadi kunci untuk memastikan proyek ini tidak kembali tertunda.
Nilai Strategis dan Dampak Ekonomi
Jika terealisasi, pembangunan Terowongan Geurutee diyakini akan memberikan dampak signifikan, mulai dari meningkatkan keselamatan pengguna jalan, memangkas waktu tempuh antarwilayah, hingga menurunkan biaya logistik.
Proyek ini juga diproyeksikan memperkuat konektivitas ekonomi kawasan barat–selatan Aceh, yang selama ini sangat bergantung pada jalur darat dengan kondisi medan yang menantang.
Tantangan Pembiayaan dan Koordinasi
Meski memiliki nilai strategis tinggi, proyek ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait kebutuhan pembiayaan dan kompleksitas teknis.
Sejumlah skema pendanaan, termasuk melalui APBN dan kerja sama dengan investor, masih dalam tahap kajian. Di sisi lain, sinkronisasi kebijakan antarinstansi serta kesinambungan koordinasi dinilai menjadi faktor kunci dalam menentukan percepatan realisasi proyek.
Upaya konfirmasi kepada Pemerintah Aceh dan instansi terkait masih dilakukan hingga berita ini diturunkan.
Menunggu Kepastian Nyata
Bagi masyarakat barat–selatan Aceh, Terowongan Geurutee bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan dan keberlangsungan aktivitas sehari-hari.
Dengan adanya sinyal kesiapan investor, peluang realisasi proyek kembali terbuka. Namun tanpa langkah konkret dan kepastian kebijakan, potensi tersebut berisiko kembali terhenti.
Di tengah tingginya risiko di jalur Geurutee, waktu bukan lagi sekadar proses—melainkan penentu antara keselamatan dan ketidakpastian yang terus dihadapi masyarakat setiap hari.
Desakan publik pun kian menguat, agar proyek ini tidak kembali menjadi sekadar wacana yang berulang tanpa realisasi.
Detik Peristiwa












