Kendal – detikperistiwa.co.id
Lazuardi malam di atas Perumnas Banyumanik, Jumat akhir Juli lalu, perlahan menggelap ketika rombongan jamaah serta warga berdatangan. Serambi hingga ruang dalam Masjid Raya Al Muhajirin mendadak riuh oleh gesekan kain sarung, sapaan hangat, dan langkah kaki sekitar 700 orang. Mereka berkumpul bukan untuk sekadar hadir dalam ritual triwulan , melainkan mencari penawar atas keriuhan hidup dan kehidupan.
Di tengah ritme keseharian kota yang sering kali memicu kelelahan emosional dan keterasingan, majelis seperti Jawahirul Ma’ani hadir menjadi ruang perjumpaan yang menenangkan. Pertemuan malam itu membuktikan satu hal: ketika ratusan orang duduk berdampingan dengan niat yang sama, prasangka meluruh, menggantikannya dengan rasa keterikatan yang hangat.
Suasana batin yang padu itu kian terasa saat Ketua Yayasan Masjid Raya Al Muhajirin, Devri Alfiandi, berdiri di depan mikrofon. Alih-alih menyampaikan sambutan formal yang kaku, Devri menyapa jamaah dengan keterbukaan yang tulus. Ia bersyukur masjid terbesar di Banyumanik itu dipenuhi warga, lalu tanpa ragu menawarkan pintu masjidnya untuk kegiatan berkala berikutnya.
Cara menyapa yang hangat ini berdampak besar secara emosional. Ketika seseorang diterima dengan lapang dada di sebuah ruang publik, timbul rasa aman dan rasa dihargai. Jamaah tak lagi merasa sebagai “tamu asing”, melainkan bagian dari keluarga besar.
Keramahan itu disambut dengan kerendahan hati oleh M. Jamil, perwakilan panitia. Selain menyampaikan terima kasih atas gotong royong dari jamaah, simpatisan dan donatur, ia tak sungkan memohon maaf atas segala kekurangan panitia. Tutur kata yang jujur dan santun ini secara perlahan meruntuhkan sekat kecanggokkan, mempererat ikatan rasa saling percaya di antara mereka.
Memberi Rasa Tenang lewat Kejelasan Organisasi
Namun, ketenangan jiwa di dalam sebuah kelompok tidak hanya tumbuh dari kehangatan sapaan. Manusia juga membutuhkan rasa pasti dan arah yang jelas agar bisa merasa tenang sepenuhnya.
Hal itulah yang dihadirkan oleh Pratondho, Ketua Jamaah Jawahirul Ma’ani Kota Semarang. Di hadapan ratusan jamaah, ia membagikan kabar penting mengenai legalitas majelis. Kehadiran yayasan resmi serta dokumen keterangan terdaftar Majelis Taklim dari pemerintah menjadi bukti bahwa komunitas Jawahirul Ma’ani ini ditopang oleh tata kelola yang tertib serta legal.
Langkah mengabarkan kejelasan aturan ini sangat penting. Tak kalah penting adanya sinergi kepengurusan dari mulai Tingkat Kota, wilayah hingga Pusat juga telah terealisir. Ketika anggota tahu kelompoknya memiliki dasar yang kuat dan diakui secara sah, muncul rasa bangga dan kepastian di dalam diri. Mereka merasa bernaung di tempat yang aman dan terarah. Ajakan untuk bersatu dalam agenda bersama—mulai dari pembentukan wadah perempuan hingga penggunaan kitab panduan yang sama—kian menguatkan rasa kebersamaan mereka.
Pesan Sederhana yang Menyelusup ke Hati
Memasuki puncak acara, keheningan menyelimuti ruangan saat Kyai Thohir Al Hafidz menyampaikan nasihatnya. Tanpa kata-kata yang rumit, ia memilih bahasa tutur sehari-hari yang akrab di telinga warga.
“Seng sopo wonge taat karo opo seng tak printahke, lan nderek’aken engkang nopo seng dados tindhak lampahe Kanjeng Nabi SAW, maka termasuk penghuni syurga…” ucap Kyai Thohir pelan namun tegas.
Pilihan bahasa yang merakyat ini membuat pesan agama tidak lagi terdengar sebagai deretan ajaran yang menakutkan, melainkan ajakan penuh kasih sayang. Nasihat untuk meneladani perilaku Nabi dalam tatanan hidup sehari-hari pun menjadi sangat mudah diserap dan diresapi oleh siapa saja.
Saat pengajian usai dan ratusan jamaah melangkah keluar melintasi dinginnya malam Banyumanik, mereka tidak pulang dengan tangan kosong. Ada rasa lega di dada, kedamaian di pikiran, dan hangatnya rasa persaudaraan yang mereka bawa pulang—sebuah bukti nyata bahwa cara kita berinteraksi dan menyapa sesama mampu menjadi obat bagi jiwa yang lelah.
-Pram-












