Berita  

Sembilan Bulan Pascabanjir, RPRLB Mulai Uji Pemulihan Lahan Pertanian Melalui Budidaya Kacang Tanah Di Bireuen

Bireuen – detikperistiwa.co.id

Lahan 2 Hektare di Gampong Alue Kuta Dijadikan Area Percontohan untuk Menguji Pemulihan Produktivitas dan Penguatan Ekonomi Masyarakat

Sembilan bulan setelah bencana banjir melanda wilayah tersebut, persoalan pemulihan bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian masih membutuhkan perhatian. Ketika fase tanggap darurat telah berlalu, tantangan berikutnya adalah bagaimana lahan yang terdampak dapat kembali dimanfaatkan dan menjadi sumber produktivitas masyarakat.

Dalam konteks tersebut, Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB) menjalankan Program Percontohan Pemulihan Lahan Pascabanjir melalui Budidaya Kacang Tanah di Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Program tahap awal mencakup lahan seluas 2 hektare. Areal tersebut dijadikan lokasi percontohan untuk melihat secara langsung potensi pemanfaatan lahan pascabanjir melalui kegiatan pertanian yang dilakukan secara terukur dan melibatkan masyarakat.

Bagi RPRLB, sembilan bulan pascabencana merupakan fase penting. Perhatian tidak lagi semata-mata diarahkan pada penanganan keadaan darurat, tetapi mulai bergeser kepada pemulihan sumber penghidupan, produktivitas lahan, dan ketahanan ekonomi masyarakat.

SEMBILAN BULAN KEMUDIAN, PEMULIHAN HARUS BERGERAK

Banjir dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang daripada masa ketika air menggenangi permukiman dan lahan pertanian.

Setelah air surut, persoalan baru dapat muncul. Kondisi tanah, sedimentasi, drainase, kesuburan, serta kemampuan lahan untuk kembali menghasilkan produksi perlu diperhatikan sebelum aktivitas pertanian dapat berjalan secara optimal.

Bagi petani, persoalan tersebut bukan hanya persoalan lahan.

Ketika lahan tidak produktif, sumber pendapatan keluarga juga ikut terganggu.

Karena itu, sembilan bulan pascabencana menjadi momentum untuk mendorong pemulihan dari fase bantuan dan penanganan dampak menuju fase pengembalian produktivitas dan penghidupan masyarakat.

Program RPRLB mengambil pendekatan sederhana tetapi strategis: memulai dari lahan yang tersedia, mengujinya secara nyata, mencatat hasilnya, dan menggunakan pengalaman tersebut sebagai dasar untuk menentukan langkah berikutnya.

DUA HEKTARE MENJADI AREA PERCONTOHAN

Lahan seluas 2 hektare di Gampong Alue Kuta menjadi tahap awal program.

Skala tersebut dipilih agar proses pemulihan dapat dipantau secara lebih terukur, mulai dari kondisi lahan hingga hasil akhir budidaya.

Program mencakup sejumlah tahapan, antara lain identifikasi kondisi lahan, persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, monitoring, panen, pascapanen, serta evaluasi.

Selain mengamati pertumbuhan tanaman, pelaksanaan juga diarahkan untuk mencatat kebutuhan produksi, kendala teknis, hasil panen, serta aspek ekonomi yang berkaitan dengan kegiatan budidaya.

Dengan pendekatan tersebut, program tidak hanya menghasilkan kegiatan pertanian, tetapi juga menghasilkan pembelajaran yang dapat digunakan untuk menilai kelayakan pengembangan pada tahap berikutnya.

KACANG TANAH SEBAGAI KOMODITAS PERCONTOHAN

Kacang tanah dipilih sebagai komoditas percontohan untuk menguji potensi pemanfaatan lahan dalam kondisi pascabanjir.

Pemilihan komoditas tersebut tidak berarti bahwa seluruh lahan pascabanjir harus ditanami kacang tanah.

Sebaliknya, tahap ini menjadi bagian dari proses pengujian untuk mengetahui kesesuaian lahan, pola budidaya, produktivitas, kebutuhan biaya, serta potensi ekonomi yang dapat diperoleh.

Hasil evaluasi nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah pola tersebut dapat dikembangkan atau perlu disesuaikan dengan komoditas lain yang lebih sesuai dengan karakteristik lahan dan kebutuhan masyarakat.

RPRLB: PEMULIHAN HARUS MENYENTUH SUMBER PENGHIDUPAN

Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, mengatakan pemulihan pascabencana harus memperhatikan keberlanjutan kehidupan masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian.

“Setelah sembilan bulan pascabencana, perhatian terhadap masyarakat harus terus bergerak. Bukan hanya bagaimana mereka bertahan, tetapi bagaimana mereka dapat kembali berproduksi dan membangun sumber penghidupannya,” kata Arizal Mahdi.

Menurutnya, pemulihan lahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemulihan ekonomi masyarakat.

“Kalau lahan kembali produktif, petani mempunyai kesempatan untuk kembali bekerja. Karena itu, kita ingin melihat secara nyata apakah lahan yang terdampak dapat kembali dimanfaatkan melalui pendekatan pertanian yang tepat dan terukur,” ujarnya.

DATA MENJADI DASAR EVALUASI

Salah satu aspek yang ditekankan dalam program tersebut adalah pencatatan dan dokumentasi.

Kondisi awal lahan, proses persiapan, penanaman, perkembangan tanaman, pemeliharaan, kendala, hingga hasil panen akan menjadi bagian dari evaluasi.

Pencatatan biaya dan hasil produksi juga diperlukan untuk melihat gambaran ekonomi dari kegiatan budidaya.

Pendekatan tersebut penting agar keberhasilan program tidak hanya dinilai berdasarkan kesan visual, tetapi berdasarkan data dan hasil yang dapat dianalisis.

BUKAN SEKADAR MENANAM

RPRLB menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya pemulihan yang lebih luas.

Pertanian dipandang bukan sekadar kegiatan produksi, tetapi juga sebagai salah satu jalan untuk mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketika lahan kembali digunakan, petani kembali bekerja. Ketika produksi kembali berjalan, muncul peluang pendapatan. Dan ketika pendapatan kembali tersedia, ketahanan ekonomi keluarga dapat dibangun secara bertahap.

Karena itu, hubungan yang ingin dibangun melalui program tersebut adalah:

Pemulihan Lahan → Produksi → Pendapatan → Kemandirian.

DARI SATU PERCONTOHAN MENUJU PEMBELAJARAN

Program seluas 2 hektare tersebut tidak dimaksudkan sebagai titik akhir.

Tahap awal justru menjadi kesempatan untuk melihat apa yang berhasil, apa yang menjadi kendala, dan apa yang perlu diperbaiki.

Jika hasil evaluasi menunjukkan potensi yang baik, pengalaman tersebut dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan pengembangan program pada lahan yang lebih luas.

Sebaliknya, jika ditemukan kendala, hasil tersebut juga tetap memiliki nilai karena dapat menjadi bahan untuk memperbaiki metode dan memilih pendekatan yang lebih sesuai.

Dengan demikian, program percontohan tidak hanya berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga tentang proses belajar dari kondisi nyata di lapangan.

SEMBILAN BULAN PASCA BENCANA, HARAPAN HARUS KEMBALI PRODUKTIF

Sembilan bulan setelah bencana, masyarakat tidak hanya membutuhkan ingatan tentang apa yang telah terjadi.

Mereka membutuhkan jalan untuk melanjutkan kehidupan.

Bagi masyarakat petani, jalan tersebut salah satunya adalah memastikan lahan kembali memiliki fungsi ekonomi.

Program percontohan di Gampong Alue Kuta menjadi salah satu langkah kecil untuk menuju tujuan tersebut.

Dua hektare mungkin bukan luasan yang besar.

Namun, jika dari lahan tersebut dapat lahir data, pengalaman, peningkatan kapasitas petani, produksi, dan model pemulihan yang dapat dikembangkan, maka nilainya tidak berhenti pada hasil satu musim tanam.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kembali hubungan antara lahan, petani, produksi, dan kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, pemulihan pascabencana bukan hanya tentang mengembalikan apa yang hilang.

Pemulihan adalah tentang menciptakan kemampuan untuk bangkit, bekerja, berproduksi, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih kuat.

Dari lahan terdampak menuju lahan produktif.

Dari masyarakat terdampak menuju masyarakat yang kembali berproduksi.

Dari pemulihan menuju kemandirian.

Dan dari sebuah lahan percontohan di Gampong Alue Kuta, RPRLB mencoba membangun langkah nyata menuju pemulihan pertanian dan penghidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

TENTANG RPRLB

Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB) merupakan organisasi yang menjalankan berbagai inisiatif sosial dan kemasyarakatan, termasuk pemberdayaan masyarakat, pemulihan pascabencana, dan penguatan kemandirian masyarakat.

Program Percontohan Pemulihan Lahan Pascabanjir melalui Budidaya Kacang Tanah di Gampong Alue Kuta merupakan salah satu inisiatif RPRLB dalam mendorong pemulihan produktivitas lahan dan penghidupan masyarakat melalui sektor pertanian.

ARIZAL MAHDI
Ketua Umum
Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas (RPRLB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain