BIREUEN –Detikperistiwa.co.id
Menindaklanjuti aksi mogok belajar yang dilakukan puluhan siswa SMA Negeri 1 Peudada pada Jumat, 21 Agustus 2026 lalu, pihak sekolah bersama Cabang Dinas Pendidikan Bireuen menggelar mediasi dengan para siswa, Rabu (26/8/2026).
Aksi mogok belajar tersebut sebelumnya diwarnai tuntutan siswa agar Kepala SMA Negeri 1 Peudada segera diganti atau dicopot dari jabatannya. Dalam orasi saat aksi berlangsung, para siswa menyampaikan tuntutan tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan sekolah.
Sebagai tindak lanjut, puluhan siswa kemudian dipanggil untuk mengikuti mediasi dan dialog bersama pihak terkait. Kegiatan berlangsung di mushalla lingkungan SMA Negeri 1 Peudada, Rabu (26/8/2026).
Mediasi dihadiri Plt. Kacabdin Pendidikan Bireuen Yusnita, Kabid SMA Syarwan Joni, S.Pd., M.Pd., Ketua Komite Sekolah Tgk. M. Nur, Kepala SMA Negeri 1 Peudada Fadli, S.Pd., M.M.,Pengawas SMA kabupaten Bireuen Jamaludin para guru serta puluhan siswa.
Dalam pertemuan tersebut berlangsung dialog dan pembahasan mengenai persoalan yang sebelumnya memicu aksi siswa. Kabid SMA Syarwan Joni dalam arahannya meminta para siswa untuk memaafkan apa yang telah terjadi serta memberikan kesempatan kepada Kepala SMA Negeri 1 Peudada yang baru sekitar dua minggu menjabat untuk menjalankan tugasnya.
Syarwan juga meminta agar kepala sekolah tersebut diberikan kesempatan menjalankan tugas selama enam bulan ke depan sebagai masa percobaan untuk melihat perkembangan dan kinerjanya.
“Musyawarah adalah kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan. Kami sangat mementingkan masa depan kalian. Tugas anak-anak adalah belajar,” ujar Syarwan.
Ia juga mengingatkan agar ke depan tidak ada lagi aksi demonstrasi di lingkungan sekolah. Menurutnya, setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah.
“Untuk ke depannya tidak ada lagi aksi demo seperti itu,” tegasnya.
Namun, di tempat terpisah, Ketua OSIS SMA Negeri 1 Peudada, Fiky Arbiansyah, mengungkapkan kekecewaannya terkait proses mediasi tersebut.
Menurut Fiky, meskipun dalam pertemuan tersebut berlangsung dialog dan debat, siswa merasa tidak diberikan ruang atau kesempatan yang cukup untuk menyampaikan pendapat dan persoalan yang menjadi latar belakang aksi sebelumnya.
“Kami diajak mediasi, tapi kami tidak diberi ruang untuk berbicara. Kami hanya pendengar dan diminta untuk memaafkan apa yang sudah terjadi,” ungkap Fiky.
Meski menyampaikan kekecewaan, Fiky tetap mengapresiasi respons cepat pihak Cabang Dinas Pendidikan dalam menindaklanjuti persoalan yang terjadi di sekolah mereka.
“Namun demikian, kami sangat berterima kasih kepada Kacabdin Kabupaten Bireuen Yusnita dan Kabid SMA Syarwan Joni yang cepat merespons permasalahan yang ada di sekolah kami,” katanya.
Mediasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperbaiki komunikasi antara siswa, guru dan pihak sekolah. Pemberian kesempatan kepada kepala sekolah yang baru menjabat diharapkan dapat menjadi ruang untuk membuktikan kinerja dan membangun kembali kepercayaan di lingkungan sekolah.
Jurnalis DetikPeristiwa – Erna












