Batam – detikperistiwa.co.id
Manakala diksi memori dimaknai secara psikologi, maka ia adalah proses kognitif yang mencakup kemampuan untuk menerima, menyimpan, mempertahankan, dan memanggil kembali informasi atau pengalaman masa lalu. Memori sangat krusial karena memberikan durasi kesinambungan identitas, memungkinkan untuk belajar dari jejak masa lalu, dan merespons situasi saat ini bah mode mirror/cermin kehidupan.
Sekalipun, secara harfiah dalam istilah memori dunia teknologi dan fotografi, memgenai mode mirror/ cermin merupakan fitur yang menampilkan atau menghasilkan gambar yang dipantulkan bah lagi bercermin. Bila kita bercermin di mana sisi kiri dan kanan gambar akan bertukar posisi, dan boleh dibilang bahwa cermin memang telah membohongi kita. Namun, kita tetap saja selalu bercermin, sekalipun memori polesan/bungkusan dibohonginya dengan menukar posisi bayangan yang sesungguhnya.
Sekalipun memori wajah dengan bungkusan betonan oleh para pihak pendukung dan pejabat di pemerintahan Prabowo di dalam menepis anggapan, bahwa pemerintahannya merupakan bentuk “reinkarnasi” Orde Baru/Orba. Bahkan Menteri HAM, Natalius Pigai, melolong dengan halusinasinya guna menepis isu militerisasi dan kembalinya Orba hanyalah sebuah imajinasi belaka yang terlalu dibesar-besarkan. Pemerintahan saat ini menegaskan bahwa mereka lahir dan berjalan melalui mekanisme pemilihan umum yang sah dan demokratis sehingga meraih memori jabatan yang diembannya.
Pada 10 Mei 2026, saya menggores tentang memori “Presiden Prabowo, Dijilatin Demi Jabatan” di Kompassindonesia news; Mabesnews, dan Pedoman Karya. Di dalam penggalan goresan akan dinukilkan kembali secara singkat mengenai secuil jejak Presiden Prabowo, yakni sbb.
“Mesti disadari juga, sesungguhnya memori Presiden Prabowo merupakan buah plus atas jasa dari mantan mertuanya Presiden Soeharto sebagai ingroup Orde Baru, memang tak bisa dipungkiri menjadi memorinya. Terutama, saat jadi anggota TNI sehingga pangkatnya bisa melesat luar biasa hingga mengalahkan senior_seniornya saat itu_yang telah lama ber_antrian guna menanti peringkatnya. Bahkan, boleh dikatakan memori jejak Prabowo, juga buah yang telah berguguran jatuh, dan mekar kembali dari jasa reformasi yang dikibarkan dengan lokomotif utama oleh Prof. Dr. Amien Rais.
Kini, mesti siumanlah jangan pula para pengikutnya lupa memori akan kulitnya, sehingga berlebihan pikun hingga berdurasi daratan juga berlautan akan memori tapak jejak sejarah. Manakala, kini Prabowo telah melesat jadi Presiden, bukan berarti dibebaskan dari otokritik, baik bersifat hoaks atau hots di alamatkan kepadanya, demi jabatan mesti dijilatin.” Namun, diharapkan tetap jantan menerima otokritik sebagai memori Presiden Republik Indonesia untuk tetap dikenang jantan.
Presiden Mesti Jantan
Zaman telah serba terbuka begini tak perlu gunakan diksi pepatah lama, “lempar batu sembunyi tangan.” Justru diksi demikian akan tetap dipatahkan dengan logika transparan saat ini.
Kalau jantan sebut saja, bila ada yang membiayai demo, seperti dioral oleh Presiden Prabowo
Tak perlu bereinkarnasi gaya Orde Baru lagi hingga terkesan, itu lagu lama yang bermain omon omon di dalam adu dengkulan
Sedikit dikit //tuduh sana//tuduh sini
Sedikit dikit//tangkap sini //tangkap sana
Sedikit dikit//teror sini //teror sana
Bila, Presiden Prabowo masih dikesankan jantan//ya sebutin saja//gitu aja repotin //Tak mesti dideklarasikan di dalam orasinya// justru berbuah memori Simalakama dalam pemaknaannya
Simalakama Didemo
Didemo //isu dialihin jadi adu domba//politik belah bambu berbuah simalakama
antara mahasiswa dengan maha_sewa didagelani demo
Didemo//isu dialihin jadi adu domba//politik belah bambu berbuah simalakama
antara Tentara beralih fungsi dengan polisi didagelani menangani demo
Didemo//isu dialihin jadi adu domba//politik belah bambu berbuah simalakama
antara Presiden Prabowo dengan Jokowi berkongkalikongan ijazah palsu didagelani alihin isu demo
Didemo//isu dialihin jadi adu domba//politik belah bambu berbuah simalakama
antara janji janji ilusian dengan orasi berapi api penuh memori emosi hampa solusi
Janji Penuh Emosi
Janji janji penuh emosi melimpah ruah juga tumpah hampa karuan dengan sumpah serapah menimpa negeri
Janji janji penuh emosi berhamburan di mana mana tanpa bukti nyata menjadi lembaran hampa yang menghiasi negeri
Janji janji penuh emosi terus melolong dengan retorika lendiran melompong dipertontonkan tanpa moral kemaluan akan memori jenis kelamin idealisme oleh para pemimpin negeri
Idealisme Sejati
Bila nilai idealisme sejak dini telah dinodai dengan politik belah bambu
Maka, fakta idealisme nan dijunjung tinggi pun terbelenggu jadi debu berhamburan hampa makna apapun
Juga, solusi idealisme pun jadi ilusian //berarti sama mawon bah ampasan saja
Idealisme, itu harga diri sejati berjiwa nurani, sekalipun maut kematian mesti berhadapan
Idealisme, logika memang cerdas juga mesti dialogis dikedepankan, menjadi memori reformasi diri
Reformasi Lagi
Dulu, Orde lama berawal gejolak penculikan para Jenderal oleh PKI dikenal dengan Revolusi akhirnya diganti Presiden
Kemudian, Orde Baru bergaya antikritikan dibantai dengan tindakan petrus serba diculik para aktivis untuk melenyapkan.
Lalu bangkit istilah reformasi dan akhirnya Presiden mundur dengan sendirinya
Kini, Orde Reformasi_saling bebas otokritik berhingga kebablasan, sekalipun hampa argumentasi yang terbalasin dengan para penjilatan pun diorganisirin
Dan mungkin akhirnya jua, boleh jadi maut hitam reformasi jilid II akan berkalam
Aduhai, Negeri tercinta kasihan dikau, selalu dirundung dengan jejak Kelam oleh para hirarki oligarki yang berlogika ampas ceboan_hanya bertumpukkan dengan demokrasi ala harakiri jilatan jadi andalan diqurbanin
Qurban, Kematian Bukan Bencana
Bila terjadi sebagian dari kematian barengan yang menimpa, bukan diidentikkan dengan bencana semata.
Tetapi, boleh jadi, ada bagian dari suratan semesta yang mesti diterima, karena ulah perbuatan yang menerobos paksa akan jalur yang telah dilarang oleh Tuhan.
Sekalipun, memang ada juga sebagiannya dikarenakan bencana alam yang ditakdirkan sebagai ujian, mesti direnungkan dengan logis dengan keyakinan tulen.
Hal demikian tidak lain, guna mengkoreksi diri agar sadar sebagai hamba Tuhan yang serba terbatas, dan penuh kelemahan di dalam mengarungi akan durasi di dalam ber_”fantasyiruu fil ardhi” pada kehidupan yang fana ini berkalam.
Termasuk, dilema kematian hewan di dalam pemaknaan qurban beresensi ibadah sebagai hamba secara personal yang lillahi ta’ala berkalam.
Becana dan atau berqurban digunakan dana APBN oleh Presiden Prabowo tanpa berkalam dari jejak para Nabi sebagai panutan yang shahih di dalam bersalam tentu memori reinkarnasi yang karam.
Memori Reinkarnasi Rupiah “98
Rupiah semakin melorot, tentu tidak tutup kemungkinan terjadi memori reinkarnasi reformasi ’98 akan berkibar lagi
Bila dolar jadi kiblat, dikarenakan memori tahun 1998 Rupiah sungguh anjlok, berkisaran Rp16.000 hingga Rp17.000.
Dan bahkan kini, justru lebih merosot di level Rp 17.666 per USD.
Sekalipun, diocehin rakyat di pelosok dusun tak menggunakan dolar, tetapi itu bukan jalan keluar yang terbaik sebagai memori pemimpin bangsa sejati sebagaimana diharapkan.
Termasuk, memori niat baik yang berdurasi otokritik kepada Presiden Prabowo beserta jajarannya yang lagi bertegangan tinggi, dan mungkin berlebihan khawatirin akan terjadi arus reformasi jilid dua akan berkibar dan berkalam.
Jadi, sebaiknya Presiden beserta jajaran tidak perlu berlebihan host untuk membalas diksi otokritik apapun. Akan lebih elok jujur apa adanya sehingga memori diksi tidak berkeliaran. Tentu, harapan bersama, adalah tidak lain agar memori Bangsa Indonesia akan lebih berkibar dengan benar dan jantan. Memori yang benar-benar kepada akar keyakinan yang “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” / Negeri yang baik (subur/makmur) yang diridhoi Tuhan_QS. Saba’ :15, untuk tetap bersalam tanpa karam.
Jadi, sekalipun kini Prabowo telah jadi Presiden di era reformasi, namun tidak boleh juga melupakan sama sekali akan jejak memorinya sebagai mode mirror dari produk Orba yang telah berjasa padanya_sekalipun, mungkin tidak tereinkarnasi 100 derajat bersalaman.
Wallahualam













