Batam – detikperistiwa.co.id
Tidak semua mimpi lahir di ruang yang penuh kemewahan. Ada mimpi yang tumbuh di tengah kesederhanaan, di antara hamparan sawah, di balik tangan seorang ayah yang kasar karena bekerja, dan di dalam doa seorang ibu yang tak pernah lelah memohon kepada Allah agar anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Saya adalah bagian dari kisah itu.
Saya lahir bukan sebagai anak orang kaya. Saya dibesarkan dalam keluarga petani yang mengajarkan bahwa harga diri tidak diukur dari harta, melainkan dari kejujuran, kerja keras, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Sejak kecil saya memahami bahwa kehidupan tidak selalu berpihak kepada orang yang mengeluh, tetapi kepada mereka yang terus berusaha meskipun keadaan tidak mudah.
Dulu, gelar doktor hanyalah sebuah mimpi yang terasa sangat jauh. Bahkan, mungkin banyak orang menganggapnya mustahil bagi seorang anak petani. Namun saya memilih untuk tidak membiarkan keadaan menentukan masa depan saya. Saya percaya bahwa Allah tidak melihat dari mana seseorang berasal, tetapi melihat kesungguhan hati dan ikhtiar yang dilakukan.
Tak ada perjuangan yang sia-sia. Kalimat itu bukan sekadar motivasi, tetapi kenyataan yang saya alami sendiri. Setiap langkah menuju gelar doktor dipenuhi ujian yang tidak ringan. Ada waktu yang harus dikorbankan, tenaga yang terkuras, pikiran yang terus bekerja, dan keringat yang mengalir tanpa henti. Tidak sedikit malam yang saya habiskan bersama buku-buku, jurnal ilmiah, dan penelitian, sementara orang lain telah terlelap dalam tidurnya.
Perjalanan ini mengajarkan bahwa kesuksesan tidak datang karena keberuntungan. Kesuksesan lahir dari disiplin yang dijaga setiap hari, dari semangat yang tetap menyala meskipun berkali-kali gagal, dan dari doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.
Saya menempuh pendidikan dari sekolah dasar hingga akhirnya menyelesaikan program doktor. Setiap jenjang pendidikan adalah anak tangga yang harus didaki dengan kesabaran. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada kemudahan yang datang begitu saja. Semua harus dibayar dengan kerja keras.
Perjuangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saat ketika tubuh terasa lelah, pikiran hampir menyerah, dan hati bertanya apakah semua pengorbanan ini akan berakhir indah. Namun setiap kali keraguan datang, saya teringat wajah kedua orang tua yang telah mengorbankan hidupnya demi pendidikan anak-anaknya. Saya tidak ingin perjuangan mereka berakhir sia-sia.
Siang saya isi dengan bekerja, malam saya isi dengan belajar. Siang menjadi perjuangan, malam menjadi tempat memupuk mimpi. Begitulah hari-hari yang saya jalani selama menempuh pendidikan doktor. Tidak ada kemewahan dalam perjalanan ini. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa setiap pengorbanan akan menemukan balasannya.
Di balik perjalanan panjang tersebut, ada sosok yang selalu menjadi penyemangat, yaitu istri tercinta. Ketika semangat mulai melemah, ia hadir menguatkan. Ketika langkah terasa berat, ia tetap berdiri di samping saya.
Kepadamu kasih tercurah. Terima kasih karena telah menjadi teman hidup sekaligus teman perjuangan. Engkau telah mengorbankan banyak hal agar saya dapat menyelesaikan cita-cita ini. Gelar doktor ini bukan hanya milik saya, tetapi juga milikmu dan keluarga yang tidak pernah berhenti memberikan doa.
Hari ini, ketika nama saya disertai gelar doktor, saya tidak melihatnya sebagai lambang kesombongan. Saya melihatnya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Ilmu yang diperoleh harus menjadi cahaya bagi orang lain, bukan sekadar kebanggaan pribadi.
Saya ingin menyampaikan kepada setiap anak Indonesia yang lahir dari keluarga sederhana, terutama anak-anak petani, bahwa jangan pernah takut bermimpi besar. Jangan pernah merasa rendah diri hanya karena berasal dari desa atau keluarga yang serba terbatas. Justru dari kesederhanaan itulah lahir manusia-manusia yang kuat menghadapi kehidupan.
Hari ini saya dapat mengatakan dengan penuh rasa syukur:
Doktor itu adalah saya. Saya yang dahulu hanya berani bermimpi, kini berdiri sebagai bukti bahwa mimpi dapat menjadi kenyataan. Bukan karena jalan hidup saya mudah, tetapi karena saya memilih untuk tidak berhenti berjuang. Sebab saya percaya, tidak ada setetes keringat yang sia-sia, tidak ada doa yang terbuang percuma, dan tidak ada perjuangan yang berakhir tanpa makna apabila semuanya dilakukan dengan ikhlas dan penuh keyakinan kepada Allah SWT.












