Jakarta – detikperistiwa.co.id
Langit Jakarta menjadi saksi perjalanan terakhir Mayjen TNI (Purn) H. Syamsir Siregar. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) dan mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI itu dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (25/8/2026).
Prosesi pemakaman berlangsung dalam suasana khidmat. Keluarga, sahabat, sejumlah tokoh nasional serta keluarga besar TNI hadir untuk mengantarkan almarhum menuju tempat peristirahatan terakhir.
Suasana haru terlihat ketika peti jenazah almarhum dibawa menuju liang lahat. Sang Merah Putih yang menutupi peti menjadi simbol penghormatan terakhir bagi seorang prajurit yang telah melewati perjalanan panjang dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Di antara para pelayat yang hadir tampak sejumlah perwira tinggi TNI dan tokoh yang memiliki hubungan dengan perjalanan panjang almarhum. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa sosok Syamsir Siregar tidak hanya memiliki tempat di hati keluarga, tetapi juga dihormati di lingkungan militer dan intelijen Indonesia.
Letjen TNI Robi Herbawan Kabais TNI juga hadir dalam prosesi pemakaman tersebut. Kehadiran mantan Kabais TNI itu menjadi bentuk penghormatan terhadap senior yang pernah mengabdikan diri dalam dunia intelijen strategis.
Bagi keluarga besar TNI, nama Syamsir Siregar bukanlah nama yang asing. Sepanjang kariernya, almarhum dikenal sebagai perwira yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang pertahanan, keamanan dan intelijen.
Syamsir Siregar merupakan lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1965. Dari sinilah perjalanan panjang pengabdiannya sebagai prajurit dimulai.
Berbagai penugasan kemudian membawanya menduduki sejumlah posisi strategis. Ia pernah dipercaya sebagai Panglima Kodam II/Sriwijaya pada 1993-1994.
Setahun kemudian, Syamsir memasuki salah satu fase penting dalam karier militernya ketika dipercaya memimpin Badan Intelijen ABRI pada 1994-1996.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting sebelum dirinya kemudian dipercaya memimpin lembaga intelijen negara.
Pada 2004, Syamsir Siregar ditunjuk sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Jabatan tersebut diembannya hingga 2009.
Selama memimpin BIN, Syamsir berada pada salah satu posisi paling strategis dalam sistem keamanan nasional. Sebagai lembaga intelijen negara, BIN memiliki tugas penting dalam melakukan deteksi dini, memberikan informasi strategis kepada pemerintah dan mengantisipasi berbagai potensi ancaman terhadap keamanan nasional.
Posisi tersebut tentu bukan tugas ringan. Dibutuhkan pengalaman, ketajaman membaca situasi serta kemampuan menjaga kerahasiaan informasi yang berkaitan dengan kepentingan negara.
Syamsir Siregar merupakan bagian dari generasi perwira yang menjalani masa pengabdian dalam berbagai situasi dan perubahan zaman.
Setelah menyelesaikan masa tugasnya di pemerintahan dan memasuki masa purnawirawan, kiprah Syamsir tidak berhenti. Ia masih dipercaya berkontribusi di sektor profesional dan pernah menjabat sebagai Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk.
Kabar meninggalnya Syamsir Siregar pada Selasa pagi pun membawa duka bagi banyak pihak.
Almarhum meninggal dunia di Rumah Sakit Adiyaksa, Cipayung, Jakarta Timur, sekitar pukul 07.35 WIB.
Berita kepergiannya kemudian menyebar dan mendapat perhatian luas, terutama dari lingkungan TNI, intelijen, pemerintahan serta orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya sepanjang perjalanan pengabdian.
Kini, sosok yang pernah berada di balik berbagai tanggung jawab strategis negara tersebut telah kembali kepada Sang Pencipta.
TMP Kalibata menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi seorang prajurit yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk negara.
Di tempat itu pula keluarga besar TNI dan para sahabat memberikan penghormatan terakhir.
Tidak ada lagi jabatan yang melekat. Tidak ada lagi pangkat yang disandang. Yang tersisa hanyalah rekam jejak pengabdian dan kenangan dari orang-orang yang pernah mengenal almarhum.
Bagi keluarga, kehilangan ini tentu menjadi luka yang mendalam. Namun keteladanan dan perjalanan hidup almarhum akan menjadi bagian yang terus dikenang.
Bagi keluarga besar TNI dan dunia intelijen, kepergian Syamsir Siregar juga menjadi kehilangan seorang senior yang pernah mengisi salah satu bab penting dalam perjalanan pertahanan dan keamanan Indonesia.
Upacara pemakaman militer kemudian mengakhiri seluruh rangkaian penghormatan terakhir.
Suara penghormatan militer mengiringi jenazah menuju liang lahat. Sang Merah Putih menjadi simbol terakhir yang mengantarkan seorang prajurit ke tempat peristirahatan abadinya.
Mayjen TNI (Purn) H. Syamsir Siregar telah menyelesaikan perjalanan panjangnya.
Ia pergi meninggalkan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya dalam pengabdian.
Namun nama dan jasa seorang prajurit tidak berhenti ketika ia dimakamkan.
Ia akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang mengenal perjuangannya dan dalam catatan sejarah pengabdian TNI serta intelijen Indonesia.
Selamat jalan, Jenderal Syamsir Siregar.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan khilaf almarhum, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan keikhlasan.












