Bireuen – detikperistiwa.co.id
Keuchik Abeuk Jaloh, Kecamatan Jangka, Fathar Ismail, dengan tegas menyatakan menolak hasil Musyawarah Besar (Mubes) X Yayasan Almuslim Peusangan yang dilaksanakan pada Selasa, 3 November 2026.
Menurut Fathar, penolakannya bukan semata-mata persoalan siapa yang terpilih atau siapa yang menduduki jabatan, melainkan menyangkut masa depan sebuah lembaga bersejarah yang merupakan warisan besar para ulama dan tokoh pendahulu bagi seluruh masyarakat Peusangan Raya.
Ia menilai pelaksanaan Mubes X masih menyisakan persoalan mendasar, mulai dari minimnya ruang dialog, proses musyawarah yang dipertanyakan, hingga mekanisme pemilihan secara aklamasi yang dinilai tidak memberikan kesempatan yang memadai kepada peserta untuk mengajukan alternatif calon. Karena itu, ia menegaskan tidak dapat menerima hasil Mubes tersebut sebelum berbagai persoalan proses dan pertanggungjawaban diselesaikan secara terbuka sesuai ketentuan yang berlaku.
“Jangan ukur persoalan ini hanya dari siapa yang berhasil menduduki jabatan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah amanah masyarakat sudah dijalankan dengan benar? Apakah seluruh pertanggungjawaban sudah disampaikan? Apakah pengelolaan harta wakaf sudah terbuka? Inilah yang harus dijawab, bukan dihindari,” tegasnya.
Fathar mengingatkan bahwa Yayasan Almuslim Peusangan berdiri sejak 1929 atas perjuangan dan cita-cita para ulama serta tokoh pendahulu. Karena itu, tidak boleh ada pihak yang merasa memiliki kekuasaan mutlak atas lembaga tersebut.
“Almuslim bukan milik ketua, bukan milik pengurus, dan bukan milik kelompok tertentu. Almuslim adalah rumah besar masyarakat Peusangan Raya. Ini warisan orang tua kita, kebanggaan kita, dan masa depan anak cucu kita. Siapa pun yang memimpin harus menyadari bahwa mereka hanya menerima amanah, bukan menerima hak kepemilikan,” ujarnya.
Ia secara khusus mengajak masyarakat dari empat kecamatan, Peusangan Induk, Peusangan Siblah Krueng, Peusangan Selatan, dan Jangka, agar membangun kembali rasa memiliki terhadap Yayasan Almuslim Peusangan.
Menurutnya, masyarakat jangan hanya hadir ketika ada kegiatan, menyekolahkan anak, atau menikmati hasil pendidikan, tetapi juga harus memiliki kepedulian ketika lembaga tersebut menghadapi persoalan.
“Jangan sampai masyarakat Peusangan menjadi orang asing di rumah sejarahnya sendiri. Jangan sampai anak-anak kita kelak hanya mengenal nama besar Almuslim, tetapi tidak lagi merasakan bahwa lembaga ini adalah warisan mereka. Kita wajib menjaganya hari ini agar tetap menjadi kebanggaan generasi yang akan datang,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik dan penolakan terhadap hasil Mubes X bukanlah tindakan permusuhan. Justru, menurutnya, masyarakat yang peduli harus berani mempertanyakan segala sesuatu yang menyangkut amanah dan kepentingan bersama.
Fathar meminta agar seluruh laporan pertanggungjawaban pengurus dibuka secara menyeluruh, pengelolaan aset wakaf dan aset hasil pengembangan dijelaskan secara transparan, serta dilakukan audit independen demi memastikan seluruh amanah dikelola secara bertanggung jawab.
“Jangan jadikan jabatan sebagai alasan untuk menutup ruang evaluasi. Jangan anggap orang yang bertanya sebagai musuh. Tidak ada yang perlu ditakuti dari keterbukaan jika semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Yayasan ini harus lebih besar daripada kepentingan siapa pun,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Fathar kembali menegaskan bahwa dirinya tetap menolak hasil Mubes X dan mendukung reformasi total tata kelola Yayasan Almuslim Peusangan melalui mekanisme yang sah, transparan, dan melibatkan seluruh unsur yang memiliki hak serta kepentingan.
“Jabatan boleh berganti, orang boleh datang dan pergi, tetapi Almuslim harus tetap menjadi milik dan kebanggaan masyarakat Peusangan Raya. Jangan wariskan persoalan kepada anak cucu kita. Wariskanlah lembaga yang bersih, bermartabat, dan dapat dibanggakan. Hari ini mungkin kita sedang berbeda pendapat, tetapi dalam menjaga warisan leluhur, masyarakat Peusangan harus berdiri bersama. Kita tidak sedang memperjuangkan kursi seseorang, kita sedang memperjuangkan masa depan generasi kita,” tutup Fathar.







