Jakarta – detikperistiwa.co.id
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana memastikan proses penanganan perkara kematian personel militer tersebut sedang berjalan di tingkat penyidik instansi.
Temukan lebih banyak
“Benar dan saat ini dalam proses pemeriksaan dari POM AU terkait hal tersebut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana.
Nyoman menegaskan penegakan aturan hukum di lingkungan institusi militer akan diterapkan secara konsisten kepada para pihak yang terbukti bersalah.
“Pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana.
Temukan lebih banyak
Melalui saluran media sosial resmi, pihak markas besar TNI AU turut membeberkan langkah penanganan hukum yang sedang dijalankan penyidik Polisi Militer.
“Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan yang dialami Serda AMF untuk mengungkap secara utuh kronologi serta fakta-fakta yang berkaitan dengan kejadian tersebut,” kata pihak TNI AU lewat akun Instagram @militer.udara.
Selain memberikan penjelasan mengenai penanganan perkara, institusi militer menyampaikan rasa duka atas meninggalnya sang prajurit.
Temukan lebih banyak
“Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” kata pihak TNI AU lewat akun Instagram @militer.udara.
Sejumlah saksi maupun personel yang terindikasi terlibat dalam peristiwa ini terus dimintai keterangan secara maraton oleh penyidik Pomau.
“Pomau telah meminta keterangan dari sejumlah pihak serta mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang diperlukan. Pemeriksaan terhadap sejumlah personel masih berlangsung,” kata pihak TNI AU lewat akun Instagram @militer.udara.
Temukan lebih banyak
Di sisi lain, Toni Eko Prasetyo selaku ayah almarhum mengungkapkan kesedihannya terkait pemicu utama kekerasan yang menimpa putranya berdasarkan informasi yang ia terima.
“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mie goreng namun diberikan mie kuah,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo dilansir topik.id.
Toni juga menerangkan bahwa aksi penganiayaan tersebut dilaporkan berlangsung beruntun dalam dua waktu berbeda di lingkungan asrama.
“Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua setelah itu dini harinya pukul 03.00 WIB,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo dilansir topik.id.
Toni menceritakan kondisi fisik jenazah anaknya yang dipenuhi tanda kekerasan saat pertama kali melihat bukti visual.
“Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo dilansir detikJatim.
Temukan lebih banyak
Ia menuturkan sempat menerima kabar simpang siur mengenai penyebab kematian putranya pada Kamis pagi dari rekan korban.
“Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan, tapi dianiaya senior,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo dilansir detikJatim.
Mewakili pihak keluarga, Toni memohon perhatian jajaran pimpinan tertinggi agar kasus ini diusut secara tuntas dan adil.
“Mohon kepada Pak Presiden (Prabowo), Pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya.
Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo.
Ia berharap penanganan perkara ini dapat menjadi pelajaran agar praktik kekerasan senioritas tidak kembali berulang.
“Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo.
Pemberian sanksi terberat diharapkan dapat dijatuhkan kepada para pelaku yang terbukti melakukan tindakan penganiayaan.
“Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo.
Toni juga menekankan pentingnya keterbukaan informasi publik dan perlindungan bagi insan pers dalam mengawal kasus ini.
“Kami hanya ingin keadilan saja. Mohon tidak ada intimidasi kepada media karena pekerjaan saya juga di protokol berurusan dengan media juga,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo.
Ia membeberkan secara detail linimasa komunikasi yang diterimanya dari pihak rekan korban pada hari kejadian.
“Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB tadi pagi. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB,” kata Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo.
Upacara pemakaman Serda AMF di Kabupaten Magetan turut dihadiri oleh Penjabat Bupati Madiun H Hari Wuryanto bersama jajaran pejabat daerah setempat.












