Aceh Utara – detikperistiwa co.id
Sejarah delapan abad Samudera Pasai malam itu tidak hanya dikenang melalui cerita dan seremoni. Dari Lapangan Landeng, warisan seni Aceh mendapat ruang untuk berbicara dengan caranya sendiri.
Bink Vho Aceh menjadi salah satu kelompok yang mengisi perayaan tersebut. Mereka membawa rapai, seurune kalee, gambus, geundrang hingga debus ke hadapan lautan manusia yang memenuhi kawasan acara, Sabtu (12/9/2026).
Pertunjukan tidak dibangun dengan satu warna. Ketukan perkusi yang terus berkembang menjadi dasar permainan, lalu berpadu dengan tiupan seurune kalee dan petikan gambus. Geundrang mempertebal denyut pertunjukan sebelum aksi debus mengambil alih perhatian.
Di titik itu, pertunjukan berubah menjadi tontonan yang menguras adrenalin.
Penonton bukan hanya mendengar bunyi-bunyian tradisional. Mereka menyaksikan keberanian para pelaku debus sekaligus menikmati permainan musik yang menjadi identitas Bink Vho. Sorak dan tepuk tangan pun mengiringi rangkaian aksi hingga berakhir.
Bagi kelompok asal Lhokseumawe itu, kesempatan berada di panggung Milad ke-800 Samudera Pasai memiliki arti tersendiri. Perayaan sejarah menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa seni tradisi masih dapat ditempatkan dalam pertunjukan yang menarik bagi penonton masa kini.
Perjalanan yang Tidak Selalu Mulus
Cerita Bink Vho sebenarnya telah dimulai jauh sebelum panggung Landeng dipadati masyarakat.
Kelompok tersebut dibentuk di Lhokseumawe pada 2005. Aktivitas mereka kemudian berkembang melalui berbagai kegiatan seni dan kebudayaan. Namun, perjalanan itu tidak berjalan tanpa jeda. Pada 2008, kegiatan Bink Vho sempat berhenti.
Kebangkitan baru terjadi pada 2015. Mereka kembali menekuni jalur musik tradisional dan perlahan membangun perjalanan baru.
Dari panggung lokal, Bink Vho kemudian masuk ke dunia rekaman. Album “Cut Nyak Dhien” menjadi karya awal yang menandai langkah mereka. Setelah itu lahir album nasional “She Love Me” melalui kerja sama dengan label Malaysia, Luncai Emas.
Nama Bink Vho selanjutnya mulai dibawa ke panggung luar Indonesia.
Pada 2018, mereka mengikuti rangkaian pertunjukan di Australia. Aktivitas internasional kembali berlanjut di Johor, Malaysia, pada 28 Agustus 2025. Dalam agenda tersebut, mereka tampil bersama KanDe Band dan Sanggar Seni Cut Nyak Dhien Pendopo Gubernur Aceh di Austin Stadium.
Sehari kemudian, mereka kembali mengikuti kegiatan kebudayaan di Johor.
Tujuh Pemain, Tiga Negara
Keberlangsungan Bink Vho juga ditopang oleh personel yang tetap menjaga komunikasi meski kehidupan mereka berada di tempat berbeda.
Zulfadli Kawom mengemban vokal sekaligus rapai. Erwin memainkan rapai pertama, Taufik berada pada rapai kedua, sementara Safar memainkan rapai ketiga dan gambus.
Romi Pasla menangani geundrang. Hendra serta Abenk melengkapi permainan melalui rapai dan seurune kalee.
Para pemain tersebut tidak semuanya tinggal di Aceh. Sebagian berada di Malaysia dan Australia.
Perbedaan jarak membuat proses berkesenian membutuhkan cara tersendiri. Komunikasi serta latihan dapat dilakukan secara daring, sedangkan pertemuan langsung menjadi bagian penting ketika mereka mempersiapkan agenda pertunjukan.
Dengan kondisi tersebut, menjaga kekompakan bukan perkara sederhana. Namun, musik menjadi titik temu yang membuat kelompok itu tetap berjalan.
Tradisi yang Memilih untuk Bergerak
Bink Vho tidak hanya mengandalkan satu bentuk pertunjukan. Mereka meramu sejumlah unsur seni Aceh sehingga musik dan atraksi berada dalam satu kesatuan.
Rapai membangun pola permainan. Seurune kalee memberikan karakter melodi. Gambus dan geundrang menambah lapisan bunyi. Debus menghadirkan sisi visual yang membuat penonton memiliki alasan untuk terus mengikuti pertunjukan.
Dari formula tersebut, perjalanan Bink Vho berkembang hingga ke berbagai panggung. Setelah Malaysia dan Australia, kelompok ini disebut mendapat kesempatan untuk mengikuti agenda kebudayaan di Belanda, Rusia, Prancis dan Filipina.
Di Lapangan Landeng, perjalanan itu kembali menemukan panggungnya di tanah sendiri.
Milad ke-800 Samudera Pasai menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya berada di buku atau situs peninggalan. Ia juga dapat hadir melalui suara, gerak dan keterampilan manusia yang memilih untuk menjaga warisan leluhurnya.
Malam itu, Bink Vho membuktikannya dengan cara yang sederhana namun kuat: membiarkan rapai berbicara, membiarkan seurune kalee mengalun, lalu menghadirkan debus sebagai penutup yang membuat ribuan penonton sulit mengalihkan pandangan.
Dari Aceh Utara, warisan itu kembali menemukan penontonnya.
(Abu yus)












