Semarang – detikperistiwa.co.id
Udara di Aula Agro Purwosari siang itu, Kamis, 4 Juni 2026, terasa lebih hangat. Di ruangan milik Dinas Pertanian Kota Semarang yang terletak di Jalan Kedungjangan, Kelurahan Purwosari, Mijen ini, sekelompok pejabat penting duduk merapat. Mereka datang jauh-jauh dari tanah Sulawesi.
Rombongan tamu istimewa itu adalah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Gorontalo yang memboyong formasi lengkap: Kepala Perwakilan BI Gorontalo Bambang Satya Permana, Asisten II Bidang Perekonomian & Pembangunan M. Jamal Nganro, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Perindag, para Kabag Ekonomi Kabupaten/Kota se-Gorontalo, hingga Direktur BUMD PT Gorontalo Fitrah Mandiri.
Selama ini, momok terbesar urusan isi piring kita adalah rantai pasok yang kelewat panjang. Bayangkan saja jalurnya: dari tangan petani yang berkeringat di sawah, hasil bumi harus melewati tengkulak, mengepul, pembeli besar, distributor, hingga pengecer, baru mendarat di dapur konsumen. Efek domino psikologisnya merusak.
Saat panen raya, harga di tingkat petani dijatuhkan setinggi-tingginya, namun anehnya, harga di pasar untuk ibu rumah tangga tetap melonjak ugal-ugalan.
“Petani selalu galau. Pas panen harga murah, tapi pas musim tanam tiba, modal dan pupuk malah hilang dari pasar,” keluh Ahmad Karsidin.
Rantai pasok yang menggurita tidak hanya menguras dompet konsumen, tetapi secara perlahan mematikan motivasi petani untuk berproduksi. Di sinilah badai inflasi bermula.
Melihat lingkaran setan itu, PT Lumpang Semar Sejahtera, sebuah Badan Usaha Milik Petani (BUMP), mengambil peran sebagai “pahlawan lokal”.
Strategi mereka sederhana namun revolusioner: memotong kompas. BUMP membeli langsung dari petani dengan harga yang adil dan manusiawi, lalu menjualnya langsung ke masyarakat sebagai konsumen akhir. Jalur birokrasi dagang yang serakah itu dipangkas habis.
Sebagai tuan rumah, Camat Mijen bersama Direktur Utama PT Lumpang Semar Sejahtera dan jajarannya tampak semringah.
Mereka menyambut hangat ketertarikan luar biasa dari para tamu se-Gorontalo tersebut. Kunjungan ini sendiri merupakan tindak lanjut resmi dari surat Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nomor 28/62/Gto/Srt/B demi menduplikasi program sukses ini.
Cerita sukses ini tidak lahir semalam di dalam ruangan ber-AC. Di balik megahnya konsep ketahanan pangan ini, ada rekam jejak panjang Ahmad Karsidin. Pria yang kini menjadi Penyuluh Agama Islam P3K Kemenag Kota Semarang ini memulai segalanya dari bawah pada 2015 sebagai penyuluh pertanian swadaya yang merangkap penyuluh agama honorer.

Awalnya, gerakan ini lahir dari keresahan kolektif yang cair. Karsidin dan rekan-rekan penyuluh organik sering berkumpul dari rumah ke rumah. “Dulu itu kalau kumpul cuma makan-makan, lalu pulang,” kenang Karsidin berseloroh.
Namun, psikologi massa mencatat: ketika orang-orang kecil dengan keresahan yang sama berkumpul, energi itu bisa meledak menjadi gerakan. Sadar diskusi tanpa eksekusi hanya akan menguap di tempat cuci piring, mereka membentuk KONSULTANIK (Komunitas Penyuluh Pertanian Organik Kota Semarang).
Berkat pendampingan Sekretariat Nasional (Seknas) BUMP Pusat, pada 29 Desember 2022, ikhtiar bisnis pembela petani ini resmi mengantongi akta notaris.
Mengelola bisnis yang melibatkan ratusan isi kepala petani tentu punya tantangan psikologis tersendiri. Petani sering kali trauma dengan janji-janji korporasi besar yang berakhir dengan eksploitasi. Manajemen Lumpang Semar paham betul cara meruntuhkan dinding ketakutan itu.
Mereka tidak datang membawa tabel presentasi atau angka-angka rumit, melainkan pendekatan kultural dari hati ke hati.
Setiap bulan, direksi, karyawan, dan keluarga petani berkumpul secara rutin untuk,Istigosah dan tahlilan doa bersama serta rekreasi keluarga untuk melepas penat.
Pendekatan spiritual dan emosional ini berhasil membangun rasa memiliki (sense of belonging). Petani tidak merasa menjadi buruh yang diperas tenaganya, melainkan bagian dari sebuah keluarga besar yang sedang bertarung bersama nasib.
Dalam paparannya selaku narasumber, Karsidin mengingatkan bahwa sistem secanggih apa pun akan mandek tanpa adanya iktikad baik (good will) serta komitmen nyata (commitment will) dari seluruh pemangku kebijakan—mulai dari Pemerintah Kota Semarang, komunitas, asosiasi, hingga para pengamat ekonomi.
Delegasi Gorontalo pun pulang dengan kepala penuh inspirasi. Mereka sepakat bahwa pola sinergi semua elemen ini sangat masuk akal untuk segera ditiru di Sulawesi. Wadahnya tidak harus melulu bernama BUMP. Formula ini bisa langsung disuntikkan ke dalam urat nadi Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang sudah eksis di Gorontalo.
Dari sebuah aula dinas di pinggiran Semarang, sebuah formula lokal terbukti mampu menjinakkan inflasi. Kuncinya ternyata tidak muluk-muluk: muliakan petani, pangkas spekulan, dan kelola usaha dengan hati.
-Pram-










