YAYASAN SENTUHAN CAHAYA HATI HADIRKAN PENDEKATAN PERSUASIF BAGI PECANDU NARKOBA, PASIEN AKUI RASAKAN PERUBAHAN POSITIF

 

MUSI BANYUASIN —detikperistiwa co.id Harapan untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik selalu terbuka bagi setiap orang yang sedang berjuang keluar dari penyalahgunaan narkoba. Melalui pendekatan persuasif, komunikasi personal, dan pembinaan mental, Yayasan Sentuhan Cahaya Hati berupaya mendampingi individu agar mampu membangun kesadaran diri serta meninggalkan perilaku yang merugikan masa depan.
Yayasan Sentuhan Cahaya Hati yang dipimpin Adi Purwanto tersebut berlokasi di Desa Mulyo Rejo B4, Blok C, Dusun 5, RT 8, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan.
Dalam menjalankan program pendampingannya, yayasan ini mengedepankan pendekatan secara kekeluargaan. Setiap individu diberikan ruang untuk berkomunikasi, menyampaikan persoalan, serta mendapatkan pembinaan sesuai karakter dan latar belakang masing-masing.
Pimpinan Yayasan Sentuhan Cahaya Hati, Adi Purwanto, mengatakan bahwa seseorang yang sedang menghadapi persoalan penyalahgunaan narkoba membutuhkan perhatian, dukungan, dan pendampingan yang tepat.
Menurutnya, setiap orang mempunyai karakter, lingkungan keluarga, kondisi ekonomi, serta tingkat permasalahan yang berbeda. Oleh sebab itu, proses pendampingan tidak dapat dilakukan dengan menyamaratakan semua individu.
“Setiap orang memiliki karakter berbeda. Kami berusaha memberikan pemahaman melalui pendekatan persuasif, mengajak mereka mengenali perbuatan baik dan buruk, memahami konsekuensi dari setiap tindakan, serta menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri,” ungkap Adi.
Pendekatan tersebut juga dirasakan oleh salah seorang pasien bernama Raiga yang menjalani pendampingan di yayasan tersebut. Ia mengaku mulai merasakan perubahan positif, terutama dalam pola pikir, sikap, dan cara memandang kehidupan.
Raiga menceritakan bahwa sebelum mengikuti pendampingan, dirinya kerap merasa paling benar dan sulit menerima nasihat orang lain. Namun, melalui komunikasi dan pembinaan secara bertahap, ia mulai terbuka untuk menerima masukan dan memahami pentingnya memperbaiki diri.
“Setelah menjalani pendampingan di sini, saya merasakan banyak perubahan. Dulu saya selalu merasa benar sendiri, tetapi sekarang mulai memahami arti kehidupan dan bisa membedakan mana yang benar dan salah. Cara pendekatannya juga berbeda karena dilakukan secara persuasif. Saya tidak ingin lagi terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba,” tuturnya.
Bagi Adi, keberhasilan proses pendampingan tidak hanya bergantung pada pihak yayasan. Dukungan keluarga, khususnya kedua orang tua, menjadi bagian penting dalam membantu seseorang menjalani proses perubahan.
Karena itu, program pembinaan di Yayasan Sentuhan Cahaya Hati turut melibatkan keluarga. Masa pendampingan awal berlangsung minimal tujuh hari, sedangkan tahapan berikutnya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu, dengan durasi program yang dapat mencapai tiga bulan.
Adi juga menceritakan pengalamannya mendampingi seorang anak yang berdasarkan keterangan keluarga mengalami kesulitan berkomunikasi dan kerap menunjukkan perilaku emosional. Melalui pendekatan personal secara bertahap, komunikasi mulai terbangun hingga anak tersebut bersedia mengikuti proses pendampingan.
Selain pembinaan mental dan komunikasi, yayasan juga memperkenalkan program detoksifikasi serta penggunaan ramuan herbal. Namun, Adi menekankan bahwa pendampingan tersebut perlu memperhatikan kondisi dan keselamatan setiap individu.
Penanganan ketergantungan narkoba, termasuk proses detoksifikasi dan penggunaan obat atau bahan herbal, harus berada dalam pengawasan tenaga kesehatan profesional. Pendampingan yayasan tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan, pengobatan, maupun rehabilitasi medis yang diperlukan pasien.
Adi berharap masyarakat tidak menjauhi atau memberikan stigma negatif kepada orang-orang yang sedang berjuang melepaskan diri dari penyalahgunaan narkoba.
Sebaliknya, keluarga dan lingkungan diharapkan dapat memberikan dukungan moral, menciptakan suasana yang positif, serta membantu mereka mendapatkan akses terhadap layanan rehabilitasi yang tepat.
“Jangan langsung menghakimi mereka. Berikan kesempatan untuk berubah. Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting agar mereka memiliki semangat untuk memperbaiki kehidupan dan tidak kembali terjerumus,” ujarnya.
Melalui program pendampingan yang mengedepankan pendekatan persuasif dan kekeluargaan, Yayasan Sentuhan Cahaya Hati berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan penyalahgunaan narkoba.
Bagi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan permasalahan penyalahgunaan narkoba dan membutuhkan informasi mengenai program pendampingan, dapat menghubungi Yayasan Sentuhan Cahaya Hati melalui nomor 0857-6852-9141 atau mendatangi langsung lokasi yayasan di Desa Mulyo Rejo B4, Blok C, Dusun 5, RT 8, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin.
Yayasan Sentuhan Cahaya Hati mengajak masyarakat untuk tidak kehilangan harapan. Dengan dukungan keluarga, pendampingan yang tepat, dan penanganan profesional, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun masa depan yang lebih baik.
Edit “mry”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain