Dari Trauma Menjadi Tawa, Kisah Mahasiswa USK Di Meureudu

Pidie Jaya – detikperistiwa.co.id

Senin pagi (17/5/2026) terasa berbeda di SD Negeri Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Suasana sekolah yang biasanya tenang mendadak berubah ramai oleh suara tawa, sorakan, dan semangat para siswa yang antusias mengikuti berbagai kegiatan bersama mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK).

Melalui Program Community Development Nasional Provinsi Aceh (CDNA-E) USK bekerja sama dengan LPDP Tahun 2026, mahasiswa hadir membawa kegiatan bertema “Pemulihan Psikososial Pascabencana Banjir melalui Program Adiwiyata dan Pendidikan Darurat sebagai Literasi Lingkungan dan Kesiapsiagaan Bencana.” Namun, kegiatan ini bukan sekadar proses belajar di dalam kelas. Kehadiran mahasiswa juga menjadi upaya menghadirkan kembali rasa nyaman, semangat, dan keceriaan bagi siswa setelah banjir dan tanah longsor yang sempat melanda daerah tersebut.

Sejak pagi, suasana sekolah langsung terasa hidup. Kegiatan dibuka dengan sesi ice breaking yang membuat siswa cepat akrab dengan para mahasiswa. Tepuk semangat, permainan ringan, hingga gerakan lucu membuat ruangan dipenuhi gelak tawa. Siswa yang awalnya tampak malu perlahan mulai aktif, berani berbicara, dan terlibat dalam setiap kegiatan.

Keceriaan semakin terasa saat siswa diajak bermain sambil belajar melalui permainan psikososial bertema “Menjaga Hutan.” Dengan cara santai dan menyenangkan, mahasiswa menjelaskan pentingnya hutan dalam mencegah banjir dan tanah longsor. Para siswa pun diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan hingga menjaga pohon tetap lestari.

Suasana semakin seru ketika permainan membangun menara spageti dimulai. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta membuat menara setinggi mungkin menggunakan stik spageti. Ada yang serius menyusun, sibuk memberi ide, hingga tertawa saat menaranya roboh sebelum selesai. Meski sederhana, permainan tersebut mengajarkan arti kerja sama, komunikasi, dan saling mendukung.

Tak kalah menarik, mahasiswa juga menghadirkan kegiatan art therapy bertema “Harapanku untuk Bumi.” Para siswa bebas menggambar lingkungan impian mereka. Ada yang menggambar sungai bersih, hutan hijau, rumah aman dari banjir, hingga langit cerah tanpa sampah. Dari gambar-gambar sederhana itu, terlihat bagaimana mereka mulai berani mengekspresikan perasaan dan harapan setelah melewati situasi bencana.

Mahasiswa FKIP USK turut mengajak siswa mengenal penyebab banjir dan tanah longsor melalui cerita ringan dan kuis interaktif. Penyampaiannya dibuat santai agar mudah dipahami. Mereka belajar sambil bermain mengenai pentingnya menjaga saluran air tetap bersih, membuang sampah pada tempatnya, serta menanam pohon sebagai langkah kecil menjaga lingkungan.

Antusiasme siswa semakin terlihat saat simulasi kesiapsiagaan bencana dilakukan. Dengan penuh semangat, mereka mengikuti arahan mahasiswa mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika banjir atau longsor terjadi. Sebagian serius memperhatikan jalur evakuasi, sementara yang lain antusias mempraktikkan cara menyelamatkan diri dalam keadaan darurat.

Di sela kegiatan, beberapa siswa mulai bercerita tentang pengalaman mereka saat banjir melanda lingkungan tempat tinggal. Dari obrolan sederhana itu, suasana terasa semakin dekat dan hangat. Mahasiswa berusaha menciptakan ruang yang aman agar siswa kembali percaya diri, merasa nyaman, dan berani menyampaikan perasaan mereka.

Selain mendampingi siswa, tim pengabdi juga berdiskusi bersama guru mengenai pembelajaran interaktif melalui modul ajar yang telah disiapkan. Para guru diajak mencoba metode belajar yang lebih aktif dan menyenangkan agar suasana kelas menjadi lebih hidup serta mampu membantu membangun kembali semangat belajar siswa pascabencana.

Kepala SD Negeri 6 Meureudu mengaku senang dengan kegiatan yang dilakukan mahasiswa USK tersebut. Menurutnya, siswa terlihat lebih ceria dan mudah memahami materi karena dikemas melalui permainan dan aktivitas yang menyenangkan.

“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk anak-anak. Mereka belajar sambil bermain, menjadi lebih semangat, dan memahami cara menjaga lingkungan serta menghadapi bencana,” ujarnya.

Menjelang kegiatan berakhir, suasana semakin meriah saat pembagian hadiah bagi pemenang permainan dan siswa yang aktif selama kegiatan berlangsung. Sorak bahagia dan tepuk tangan memenuhi ruangan ketika hadiah dibagikan satu per satu. Meski sederhana, momen itu menjadi penutup manis yang meninggalkan kesan hangat bagi seluruh peserta.

Melalui program CDNA-E USK–LPDP 2026 ini, mahasiswa tidak hanya hadir membawa materi pembelajaran, tetapi juga membawa semangat, perhatian, dan kebahagiaan bagi siswa pascabencana. Di tengah trauma yang pernah mereka rasakan, perlahan tumbuh kembali tawa, harapan, dan keberanian untuk bangkit menghadapi masa depan.

detik Peristiwa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain