Semarang – detikperistiwa.co.id
Sore itu, Rabu, 17 Juni 2026, jarum jam baru saja melewati angka empat. Mentari di ufuk barat Kecamatan Mijen, Kota Semarang, mulai melunak, menyisakan semburat emas yang menerpa halaman Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Di luar pagar, ada bus besar baru saja berhenti. Pintu terbuka, lalu turunlah rombongan berpakaian rapi: 44 KUA dari lima wilayah administrasi DKI Jakarta, lengkap dengan barisan pejabat wilayahnya.
Mereka datang jauh-jauh dari gemerlap ibu kota bukan untuk sekadar pelesir birokrasi. Ada rasa penasaran yang besar di dalam dada para abdi negara asal Jakarta ini. Mereka ingin melihat langsung bagaimana Jawa Tengah—yang mengomandoi 573 KUA—mengelola dinamika masyarakatnya yang begitu majemuk dengan cara-cara yang membumi.
Namun, kejutan pertama justru datang dari sang tuan rumah. Saat pejabat teras Kementerian Agama Jawa Tengah dan Kota Semarang sibuk menyalami tamu, Kepala KUA Mijen, M. Azmi Ahsan, justru tak tampak di barisan penyambut. Ke mana dia? Usut punya usut, ternyata M.Azmi sedang berada di tengah perkampungan, sedang menjalankan WOL ( Wakaf On Location ) menuntaskan Ikrar Wakaf di PP Qosim Al Hadi Mijen. Di sinilah psikologi pelayanan publik itu bekerja secara nyata: kebutuhan dasar masyarakat di lapangan menjadi prioritas.
Menjebak Pengantin dengan Kebaikan
Bagi masyarakat perkotaan, KUA sering kali dipersepsikan secara kaku: tempat mendaftarkan nikah, urusan talak, atau urusan waris yang menjemukan. Namun di tangan Muhtasit, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, persepsi itu dirobohkan melalui komunikasi visual dan program nyata.
Salah satu yang dipamerkan sore itu adalah Program Klangenan (Kemenag Peduli Pangan dan Lingkungan). Program ini bukan sekadar slogan di atas kertas tebal. KUA setempat menggandeng Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan, hingga lembaga swadaya Foodbank of Indonesia (FOI). Hasilnya? Sebuah ekosistem yang mandiri dan kondusif.
Bukan itu saja, KUA Mijen punya taktik psikologi yang unik dalam menghadapi calon pengantin. Setiap tahun, ada sekitar 350 pasangan yang menikah di sini. Untuk mematangkan mental mereka, KUA menggelar bimbingan tatap muka. Taktiknya cerdik: surat undangan yang dikirim berbunyi “pemeriksaan berkas”. Namun, begitu sepasang kekasih itu duduk di dalam kantor, mereka langsung disuguhi materi ketahanan keluarga guna mewujudkan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Sebuah “jebakan” yang manis demi masa depan mereka.
Merangkul Preman, Menanam Pohon
Suasana dialog di aula KUA Mijen semakin hangat saat Akhmad Farkhan, Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jawa Tengah memberi sambutan. Ia memaparkan program Joglo Jateng (Jagongan Slow Jawa Tengah) yang sempat diluncurkan pada saat ada kunjungan Menteri Agama.
Konsep komunikasi massa yang diusung program ini sangat humanis. KUA membuka pintu lebar-lebar untuk berdialog dengan siapa saja, bukan hanya tokoh agama berpakaian jubah.
“Bahkan preman atau tokoh jalanan yang sekiranya punya pengikut banyak, bisa kita ajak dialog,” ujar Farkhan.

Tujuannya jelas: menyerap aspirasi sejujur mungkin. Dari obrolan santai tanpa sekat itulah pemerintah tahu apa yang sebenarnya diinginkan masyarakat dari pelayanan keagamaan.
Berikutnya ada program CTC ( Center of Tolerance and Collaboration ), merupakan inovasi Kanwil Kemenag Jateng dalam hal ini Bidang Urais, sebagai wadah kolaborasi dengan berbagai pihak, oleh karenanya implementasi CTC diharapkan menjadi langkah konkrit dalam membangun kerukunan serta pelayanan keagamaan di Masyarakat melalui kolaborasi yang harmonis dengan instansi lain seperti Lembaga, BUMN serta komunitas professional.
“ Diharapkan KUA adalah pusatnya kolaborasi dan toleransi,” katanya
Puncak dari jurnalisme lingkungan hidup di KUA Mijen dipaparkan dengan apik oleh Zuhrotun Nisa’, seorang Penyuluh Agama Islam Fungsional. Nisa’ menjelaskan bagaimana Mijen memadukan kelestarian alam dengan pelayanan iman. Di sini, setiap pasangan yang hendak menikah kita beri bibit pohon yang nanti ditanam di rumahnya,diharap dalam 5 tahun kemudian sudah bisa menghasilkan.
Tak hanya itu, KUA Mijen juga mencegat kerapuhan keluarga sejak dari hulu. Melalui bimbingan remaja usia nikah ( BRUN ) yang menyasar karang taruna, mahasiswa PPL , dan BRUS (Bimbingan Remaja Usia Sekolah) khusus ke SMP dan SMA, mereka bergerak serempak untuk menekan angka tengkes (stunting) pada anak secara efektif.
Dialog yang Tergiles Waktu
Kepala Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Robi Fadil Muhammad, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Sambil berseloroh, ia menyebut Jawa Tengah terpilih sebagai tempat belajar karena posisinya yang pas. “Kalau ke Jawa Timur terlalu jauh, kalau ke Jawa Barat terlalu dekat,” katanya disambut tawa hadirin.
Namun di balik kelakar itu, Robi menegaskan tujuan serius mereka: membedah rahasia di balik pelaksanaan 9 layanan utama dan 48 layanan turunan yang berjalan mulus di Jawa Tengah.
Sore kian merambat pekat. Sesi tanya jawab yang dipandu Nisa’ terpaksa berjalan cepat. Waktu jugalah yang akhirnya menghentikan diskusi yang sedang hangat-hangatnya itu. Sungguh disayangkan, kedatangan rombongan yang terlalu menjelang senja membuat ruang bertukar pikiran tidak bisa sekaya biasanya.
Meski demikian, dari raut wajah para peserta yang melangkah kembali ke bus, ada kepuasan yang terbaca. Mereka pulang membawa oleh-oleh berharga dari Semarang: sebuah formula bahwa pelayanan keagamaan terbaik adalah yang melibatkan hati, kelestarian alam, dan keberanian untuk memeluk semua golongan.
Pram












