Bireuen – detikperistiwa.co.id
Saat matahari sore menyinari hamparan persawahan di Gampong Ulee Ceu, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, sejumlah warga tampak berada di kawasan lahan pertanian yang perlahan mulai dimanfaatkan kembali. Di hadapan mereka terbentang sawah yang pernah menjadi sumber kehidupan masyarakat, namun selama berbulan-bulan harus menghadapi dampak banjir yang meninggalkan endapan lumpur, kerusakan saluran air, dan pertumbuhan rumput liar yang menghambat aktivitas pertanian.
Hampir delapan bulan setelah banjir besar yang melanda Kabupaten Bireuen, dampak bencana masih dirasakan oleh masyarakat hingga hari ini. Bagi banyak keluarga petani, pemulihan belum sepenuhnya terjadi. Lahan yang sebelumnya produktif masih membutuhkan penanganan, sementara perekonomian masyarakat terus menghadapi tekanan akibat terganggunya aktivitas pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan warga.
Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen menunjukkan bahwa dampak bencana terhadap sektor pertanian sangat besar. Sedikitnya 2.148 hektare sawah tertimbun lumpur, sementara total lahan pertanian yang terdampak mencapai lebih dari 4.700 hektare, terdiri dari kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Data tersebut merupakan hasil pendataan Pemerintah Kabupaten Bireuen pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2025. Sejumlah program rehabilitasi telah berjalan, namun sebagian kawasan pertanian masih membutuhkan perhatian dan penanganan lanjutan agar dapat kembali berproduksi secara normal.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian masyarakat mulai berupaya memanfaatkan lahan yang masih dapat diolah. Sejumlah warga mulai menanam mentimun, terong, jagung, dan berbagai tanaman palawija lainnya sebagai alternatif untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas, Arizal Mahdi, bersama Keuchik Gampong Ulee Ceu, Azwani, yang mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan sektor pertanian sebagai langkah penting dalam memulihkan ekonomi rakyat pascabencana.
Menurut Arizal Mahdi, pertanian merupakan fondasi kehidupan masyarakat pedesaan yang harus segera diselamatkan sebelum kerusakan yang terjadi menjadi semakin sulit dipulihkan.
“Pertanian adalah sumber kehidupan masyarakat. Jika lahan-lahan ini terus dibiarkan, maka sawah yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi keluarga akan berubah menjadi semak belukar. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk kembali memanfaatkan dan mengaktifkan lahan pertanian yang masih dapat diolah agar sektor pertanian kembali menjadi fondasi kebangkitan ekonomi rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Keuchik Gampong Ulee Ceu, Azwani, menegaskan bahwa pemerintah gampong terus mengajak masyarakat untuk menjaga dan memanfaatkan kembali lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama warga.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk kembali memanfaatkan lahan pertanian yang masih dapat diolah dan tidak membiarkannya terbengkalai akibat dampak bencana. Jangan sampai sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat berubah menjadi hutan belukar. Pertanian harus kembali bangkit agar ekonomi masyarakat juga dapat pulih,” katanya.
Di balik angka-angka kerusakan dan berbagai program rehabilitasi yang sedang berjalan, terdapat kisah perjuangan masyarakat yang setiap hari berusaha mempertahankan harapan mereka. Seorang petani yang lahannya terdampak banjir di Gampong Ulee Ceu dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa pemulihan lahan membutuhkan biaya, tenaga, dan waktu yang tidak sedikit.
“Kami ingin kembali menanam seperti biasa karena pertanian adalah sumber penghidupan keluarga kami. Namun kondisi lahan belum sepenuhnya pulih. Membersihkan sawah membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Kami berharap ada dukungan agar petani dapat kembali berproduksi dan memenuhi kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Petani tersebut mengatakan bahwa hampir delapan bulan pascabanjir menjadi masa yang berat bagi banyak keluarga petani. Selain kehilangan musim tanam, sebagian warga juga harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sambil menunggu lahan mereka kembali siap untuk digarap.
“Yang kami harapkan bukan hanya bantuan sesaat, tetapi dukungan agar kami bisa kembali bekerja dan menghidupkan pertanian. Jika lahan kembali produktif, masyarakat akan mampu bangkit dengan kekuatan mereka sendiri,” ujarnya.
Selain mengupayakan pemulihan lahan sawah, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan lahan yang masih dapat diolah dengan menanam tanaman palawija sebagai alternatif sumber pendapatan. Menurut Arizal Mahdi, kondisi pertanian di Kecamatan Jangka saat ini masih menghadapi kendala serius akibat belum berfungsinya jaringan irigasi serta banyaknya lahan yang terdampak lumpur pascabanjir.
“Saat ini petani di Kecamatan Jangka masih belum dapat menanam padi karena persoalan utama bukan hanya lumpur yang menutupi sebagian lahan, tetapi juga belum berfungsinya jaringan irigasi yang menjadi sumber pengairan sawah. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang masih dapat diolah dengan menanam jagung, mentimun, terong, cabai, dan berbagai tanaman palawija lainnya sebagai sumber penghasilan sementara sambil menunggu pemulihan irigasi dan lahan pertanian,” kata Arizal Mahdi.
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan keluarga petani, tetapi juga mencegah lahan pertanian berubah menjadi kawasan semak belukar akibat terlalu lama tidak dimanfaatkan. Selain itu, pengembangan tanaman palawija dinilai dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan masyarakat selama proses rehabilitasi lahan sawah dan perbaikan jaringan irigasi masih berlangsung.
Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Selain keterbatasan peralatan dan biaya pemulihan lahan, jaringan irigasi yang belum berfungsi secara optimal masih menjadi hambatan utama bagi petani untuk kembali menanam padi. Banyak warga menilai bahwa percepatan rehabilitasi infrastruktur pertanian menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemulihan ekonomi masyarakat.
Oleh karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Pusat dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak. Mengingat penanganan banjir dilakukan secara nasional dan dampaknya masih dirasakan masyarakat hingga saat ini, dukungan pemerintah dinilai sangat penting untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian, memperbaiki jaringan irigasi, serta mengembalikan produktivitas lahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Arizal Mahdi menilai bahwa masyarakat telah menunjukkan keinginan kuat untuk bangkit dari dampak bencana. Namun menurutnya, keberhasilan pemulihan jangka panjang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Pusat.
“Masyarakat ingin kembali bertani dan menghidupkan perekonomian keluarga. Namun tanpa percepatan rehabilitasi lahan pertanian dan perbaikan jaringan irigasi, pemulihan akan berjalan sangat lambat. Kami berharap Pemerintah Pusat dapat memberikan perhatian lebih besar agar masyarakat yang terdampak banjir dapat segera bangkit dan kembali produktif,” tegasnya.
Hampir delapan bulan setelah bencana berlalu, perjuangan masyarakat untuk bangkit masih terus berlangsung. Di balik hamparan lahan yang perlahan mulai dimanfaatkan kembali untuk tanaman palawija, tersimpan harapan besar agar sektor pertanian dapat kembali menjadi penopang ekonomi keluarga dan kesejahteraan masyarakat.
Bagi masyarakat Gampong Ulee Ceu dan wilayah terdampak lainnya di Kecamatan Jangka, pemulihan pertanian bukan sekadar soal menanam padi kembali. Pemulihan tersebut adalah perjuangan mempertahankan sumber kehidupan, menjaga ketahanan pangan, memulihkan perekonomian rakyat, dan membangun kembali harapan yang sempat tergerus oleh bencana.
Reporter: Detik Peristiwa
Sumber: Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, data rehabilitasi lahan pertanian pascabencana, dokumentasi lapangan, serta keterangan Ketua Umum Relawan Peduli Rakyat Lintas Batas Arizal Mahdi, Keuchik Gampong Ulee Ceu Azwani, dan masyarakat setempat.












