Semarang – detikperistiwa.co.id
Meski sudah terlambat beberapa hari, namun sayang untuk dilewatkan atau tidak diberitakan terkait lomba MTQ Tingkat Kecamatan Gunungpati.
Suara deru mesin mobil hias dari 16 kafilah dan dentuman drumband dari SMP/SMA Riyadus Sholihin menjadi penanda penting bagi warga Gunungpati pada Jumat siang, 24 April lalu. Sebanyak 16 kafilah, yang mewakili tiap wilayah kelurahan, beriringan memenuhi ruas jalan dari Wahid Hasyim, Pongangan, menuju Fatimah Zahra.
Ini bukan sekadar perayaan rutin; ini adalah gelaran Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-34, sebuah ajang pembuktian bagi kecamatan yang menyandang status juara umum di tingkat Kota Semarang.
Pergeseran Gengsi: Dari Lembaga ke Kelurahan
Ada alasan mengapa antusiasme tahun ini terasa lebih membahana. Ketua harian Ainur Rofiq, menegaskan kepada seluruh kelurahan di wilayah Gunungpati, bahwa gelar Juara Umum kini tidak lagi dibawa pulang oleh lembaga keagamaan atau sekolah, melainkan oleh Kelurahan.
Strategi ini terbukti ampuh memicu keterlibatan total masyarakat. Sebanyak 36 lembaga keagamaan—mulai dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/Aliyah dan Pondok Pesantren—bahu-membahu di bawah bendera kelurahan masing-masing.
Ainur Rofiq mengatakan “Semua elemen, termasuk MWC NU dan berbagai organisasi, kami himbau ikut terlibat untuk mensukseskan perhelatan ini,” ujar Rofiq, dan oleh karena itu, suksesnya MTQ adalah simbol kebersamaan ataupun kolektivitas warga.
Investasi Jangka Panjang dan Seleksi Ketat
Meski tahun 2026 ini tidak ada agenda lomba di tingkat Kota maupun Provinsi, Gunungpati tidak lantas mengendurkan ritme. Lebih lanjut diungkapkan Rofiq, bahwa gelaran ini adalah bentuk “pemanasan” serius menuju tahun 2027.
Dari 290 pendaftar yang masuk, panitia melakukan kurasi ketat. Sebanyak 50 peserta terpaksa tereliminasi, menyisakan 240 peserta terbaik yang berlaga di 9 majelis berbeda. “Faktor usia menjadi penentu utama. Kami memprioritaskan mereka yang umurnya masih memungkinkan untuk diterjunkan pada kompetisi tahun 2027 dan tahun-tahun berikutnya,” jelas Rofiq yang juga selaku penyuluh Paif Kemenag kota Semarang.
Keseriusan ini juga terlihat dari cabang yang dilombakan. Tak hanya tilawah remaja dan dewasa, kategori seperti Karya Tulis Ilmiah (KTI) Al-Qur’an serta Kaligrafi menjadi primadona. Menariknya, kategori Kaligrafi kini lebih fokus pada dua bidang modern: Kontemporer dan Digital, menyesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan marwah seni islami.
Bukan Sekadar Kompetisi
Puncak acara semakin berbobot dengan kehadiran Wakil Walikota Semarang, Iswar Aminuddin,dalam pandangannya, MTQ adalah instrumen penting untuk menciptakan kerukunan dan rasa aman di tengah masyarakat, terutama saat Semarang bersiap menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Nasional. “Intinya bukan sekadar mencari hadiah, tapi peningkatan iman dan taqwa yang berujung pada kebersamaan,” tuturnya.
Ali Ahmadi selaku Camat Gunungpati, dalam sambutannya mengapresiasi tinggi serta berterima kasih kepada SMP/SMA Bina Amal yang telah bersedia menjadi tuan rumah, juga kepada panitia, juri atau dewan hakim serta para pihak yang terlibat dalam perhelatan ini, dan pada saat yang sama bekerja keras menyaring talenta terbaik dari periode pembinaan yang telah dilalui. “Harapannya tentu ajang MTQ diberikan kelancaran, kesuksesan sehingga bisa membawa para juara hingga ke jenjang berikutnya,” pungkasnya lebih lanjut
Panggung Kehormatan di ‘Gunungpati Bersholawat’
Ada tradisi unik dalam penyerahan penghargaan kali ini. Jika peraih juara 2 dan 3 diumumkan dan menerima hadiah saat penutupan lomba, para peraih Juara 1 akan mendapatkan “karpet merah” tersendiri.
Nama-nama mereka akan diumumkan kembali dan hadiah akan diserahkan pada acara puncak Gunungpati Bersholawat.
Sebuah langkah cerdas untuk memberikan panggung kehormatan bagi para qari dan hafidz terbaik, sekaligus menunjukkan bahwa di Gunungpati, prestasi Qur’ani adalah mampu menjadikan kehormatan tersendiri di tengah masyarakat masyarakat.
——-
Pram












