Dalam Rangka menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE, Permabudhi Sulsel Gandeng Pesantren di Makassar Canangkan Eco Pesantren

Makassar, detikperistiwa.co.id – Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan bersama Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Iman Ashim Makassar mencanangkan kawasan pendidikan percontohan pengelolaan sampah terpadu dan eco pesantren di Makassar, Minggu (17/05/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari Bulan Eco-Dhamma Nasional dalam rangka menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE/2026.

Program eco pesantren yang diluncurkan di lingkungan Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Iman Ashim Makassar itu disebut menjadi satu-satunya kawasan percontohan eco pesantren di wilayah Indonesia Timur.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel Dr. Ali Yafid, Ketua Permabudhi Sulsel Dr. Ir. Yonggris, M.M, pimpinan PPTQ Al-Imam Ashim Makassar KH Syam Amir Yunus, Pembimas Buddha Sulsel Sumarjo,S.Ag, Ketua Permabudhi Makassar Suzanna, S.E., M.Pd, Kakan Kemenag Makassar Dr.H Muhammad, Kakan Kemenag Gowa H Jamaris, hingga Dewan Lingkungan Kota Makassar.

Kakanwil Kemenag Sulsel Dr. Ali Yafid dalam keterangannya, menegaskan konsep eco pesantren harus dipahami sebagai gerakan membangun kesadaran spiritual dalam menjaga alam dan lingkungan hidup.

Menurutnya, seluruh makhluk di bumi memiliki fungsi dan merupakan ciptaan Tuhan yang wajib dijaga bersama.

“Eco pesantren yang kita butuhkan itu adalah pelestarian lingkungan. Penataan pohon, kebersihan lingkungan, sampai bagaimana kita berkomunikasi dengan seluruh makhluk Allah yang ada di bumi ini,” ujar Ali Yafid.

Ia mengatakan isu lingkungan tidak bisa lagi dipisahkan dari pendidikan agama. Karena itu, pesantren dinilai menjadi tempat paling strategis untuk membentuk karakter generasi muda yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian alam.

“Anak-anak di pesantren hidup 24 jam di lingkungan pendidikan. Jadi di situlah pembentukan karakter itu bisa dilakukan secara terus-menerus, mulai dari menjaga kebersihan sampai kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.

Ali Yafid juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah berbasis pesantren. Menurutnya, sampah organik yang selama ini dianggap persoalan justru dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat maupun lingkungan pesantren.

Ia juga mengapresiasi langkah Permabudhi yang menghadirkan program edukatif berbasis lingkungan melalui pengenalan eco enzyme dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk.

Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya berdampak pada pelestarian lingkungan, tetapi juga berpotensi mendukung kemandirian serta pemberdayaan ekonomi pesantren.

“Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi juga pemberdayaan. Sampah makanan dan sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dan punya nilai ekonomi untuk pesantren. Saya juga mengapresiasi Permabudhi yang menghadirkan edukasi lingkungan melalui program eco enzyme dan pengolahan sampah organik,” ungkapnya

Ali Yafid juga menyebut Menteri Agama saat ini tengah mendorong penguatan konsep eco theology atau ekoteologi dalam kehidupan beragama.

Menurutnya, kerukunan tidak hanya dibangun antarumat manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan dan Tuhan.

“Sekarang konsep kerukunan itu berkembang, bukan hanya hubungan antarumat beragama, tapi juga hubungan manusia dengan lingkungan dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” katanya.

Karena itu, ia mendorong lahirnya kurikulum berbasis lingkungan hidup di pesantren maupun sekolah keagamaan lainnya di Sulsel. Menurutnya, pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada teori semata.

“Yang paling penting bukan anak-anak menghafal definisi lingkungan atau sampah, tetapi bagaimana perilaku mereka berubah menjadi lebih peduli dan ramah terhadap lingkungan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Permabudhi Sulsel Dr. Ir. Yonggris, M.M, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE serta gerakan nasional Eco-Dhamma yang tahun ini difokuskan pada peningkatan kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan lintas agama dan pendidikan.

“Dalam Bulan Eco-Dhamma Nasional ini kita ingin ada gerakan nyata untuk lingkungan. Karena itu kita pilih pesantren sebagai tempat membangun pendidikan karakter peduli lingkungan,” ujar Yonggris.

Ia menjelaskan terdapat empat program utama yang dijalankan dalam pencanangan eco pesantren tersebut.

Pertama, menjadikan pesantren sebagai kawasan percontohan pengelolaan sampah terpadu.

Kedua, menciptakan pesantren hijau melalui penanaman 100 pohon buah dan tanaman pelindung.

Ketiga, edukasi karakter peduli lingkungan kepada santri.

Keempat, pembangunan lubang biopori untuk pengolahan sampah organik.

“Kita ingin tempat ini menjadi pesantren hijau. Banyak pohon, udara sehat, lingkungan bersih, dan santri memiliki karakter ramah lingkungan,” katanya.

Menurut Yonggris, program yang dijalankan di Pondok Pesantren Al-Iman Ashim Makassar menjadi langkah awal pengembangan eco pesantren di Indonesia Timur.

Ia berharap kawasan tersebut nantinya menjadi lokasi studi banding bagi pesantren dan rumah ibadah lainnya.

“Ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan berat bagi kita karena ini merupakan eco pesantren pertama dan satu-satunya di wilayah Indonesia Timur yang kita jadikan kawasan percontohan,” ujarnya.

Yonggris menegaskan keberhasilan program eco pesantren sangat bergantung pada pendampingan berkelanjutan. Karena itu, Permabudhi Sulsel bersama Dewan Lingkungan Kota Makassar akan melakukan pembinaan rutin setiap bulan.

“Kalau tidak didampingi terus, ini bisa berhenti jadi seremoni saja. Karena itu kita akan datang rutin melakukan pembinaan dan edukasi,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kurikulum lingkungan hidup di sekolah dan pesantren. Menurutnya, pendidikan lingkungan selama ini terlalu fokus pada teori dan hafalan, padahal yang lebih penting adalah perubahan perilaku.

“Percuma anak-anak hafal definisi lingkungan kalau perilakunya tidak berubah. Yang kita butuhkan itu pembentukan mental dan karakter peduli lingkungan,” tegas Yonggris.

Di sisi lain, Pimpinan Pesantren melalui Sekretaris Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Al-Iman Ashim Makassar, Ustaz Jayadi Amir dalam keterangannya, menyambut baik program tersebut.

Ia berharap pesantren Tahfizul Qur’an Al-Iman Ashim Makassar dapat menjadi pusat kolaborasi pengelolaan lingkungan dan pengolahan sampah di Kota Makassar.

“Kita harapkan pesantren ini menjadi pusat kolaborasi pengelolaan lingkungan. Nantinya pengelolaan sampah dan pemilahan sampah ini bisa menjadi contoh bagi pesantren lain,” kata Jayadi.

Ia menyebut saat ini terdapat puluhan pesantren di Makassar yang berpotensi mengadopsi konsep serupa.

Menurutnya, langkah awal yang dilakukan di Al-Iman Ashim diharapkan menjadi pemicu lahirnya gerakan eco pesantren yang lebih luas di Sulawesi Selatan.

Program eco pesantren tersebut juga mencakup pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, pengembangan eco enzyme, hingga pemanfaatan maggot untuk mengurangi limbah makanan di lingkungan pondok pesantren. (Niar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain