Ketua Yayasan Jimmy Chong, Sembahyang Rebut (Chiong Si Ku) Atau Festival Hantu Kelaparan.
Sembayang Rebut Antu Gede merupakan tradisi besar umat Konghucu dan masyarakat peranakan Tionghoa yang sarat akan makna laku bakti, kebersamaan, dan spiritualitas. Berdasarkan penjelasan di lingkungan Kelenteng Dharma Suci Manggar, Belitung Timur, berikut adalah poin-poin penting mengenai esensi ritual tersebut.
Jimmy Chong ketua Yayasan Kelenteng Belitung Tinur, Wujud penghormatan sebagai bentuk bakti kepada arwah leluhur, baik leluhur yang dikenali maupun arwah telantar yang tidak lagi memiliki keluarga untuk mendoakannya.
Jimmy Chong mengatakan, tradisi ini mengajarkan keseimbangan antara memberi dan menerima demi menjaga keharmonisan alam semesta.
Ini menjadi momen permohonan perlindungan agar terhindar dari kesialan atau “kenaasan” sepanjang tahun, kata Jimmy Chong
Sementara, ketika pintu neraka terbuka dan para arwah berkeliaran ke dunia, Antu Gede (Patung Seja) bertindak sebagai penguasa yang mengontrol dan menjaga agar mereka tidak mengganggu manusia.
Tugasnya mencatat kehadiran para arwah serta mengundang mereka menikmati pesta makan bersama yang telah disajikan oleh umat manusia, didampingi oleh sosok berkepala kuda dan kerbau (Nyam Lo Bong) yang bertindak sebagai pengawal malaikat.
Menurut Jimmy Ching Kapal dan Replika Angkutan berfungsi mengangkut arwah.
Kepulangan Arwah Setelah pesta makan selesai, alat transportasi seperti kapal, pesawat, atau kura-kura digunakan sebagai simbol pengantaran agar seluruh arwah kembali ke tempatnya masing-masing dengan tertib tanpa ada yang tertinggal.
Di Kelenteng Dharma Suci Manggar, perayaan ini melibatkan masyarakat non-Tionghoa dan non-Konghucu, menjadikannya festival budaya yang mempererat toleransi.
Puncak acara ditandai dengan pembakaran patung Antu Gede serta pembagian sembako dan barang sesajen yang diperebutkan bersama, sebagai wujud berbagi rezeki dan berkah bagi sesama.
Ptytsl.
Detikperistiwa
27agustus2026






