Taubat Tidak Mengenal Usia, Dakwah Harus Berpihak pada Kebenaran

Oleh Dr. Nursalim, M.Pd Ketua Fahmi Tamami Kota Batam

Batam – detikperistiwa.co.id

Berkumpulnya kita dalam wadah Mubaligh Batam hendaknya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri. Taubat tidak mengenal usia, jabatan, kedudukan, ataupun masa lalu. Selama Allah SWT masih memberikan kesempatan hidup, pintu taubat selalu terbuka. Namun, taubat bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan keberanian memperbaiki diri, meluruskan niat, dan mengubah sikap dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita melepaskan segala identitas, kepentingan, dan kepentingan kelompok yang dapat mengaburkan tujuan utama dakwah. Ketika kita berdiri sebagai mubaligh, yang harus kita kedepankan adalah kepentingan Allah SWT, bukan kepentingan pribadi, golongan, organisasi, apalagi pesanan seorang juragan. Sebab, kebenaran tidak boleh diperjualbelikan dan agama tidak boleh dijadikan alat untuk membenarkan kepentingan tertentu.

Seorang mubaligh harus memiliki keberanian moral untuk mengatakan yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Jangan sampai yang batil disebut haq hanya karena datang dari orang yang memiliki kekuasaan, kedudukan, atau materi. Sebaliknya, jangan sampai kebenaran disembunyikan hanya karena tidak sesuai dengan keinginan pihak tertentu. Dakwah bukan pekerjaan mencari tepuk tangan manusia, melainkan ikhtiar mencari rida Allah SWT.

Berdoa memang penting, tetapi dakwah tidak cukup hanya dengan doa. Harus ada sikap, keteladanan, keberanian, dan konsistensi antara ucapan dengan perbuatan. Masyarakat tidak hanya membutuhkan mubaligh yang pandai berbicara di atas mimbar, tetapi juga membutuhkan sosok yang mampu menghadirkan akhlak Islam dalam kehidupan nyata. Sebab, dakwah yang paling kuat bukan hanya yang terdengar oleh telinga, melainkan yang mampu menembus hati dan menggerakkan ruh masyarakat.

Kini saatnya kita lebih serius memikirkan keadaan ruh kita sendiri. Selama ini, mungkin kita terlalu sibuk mengurus jasad, mengejar kedudukan, mempertahankan jabatan, memperjuangkan harta, dan memperdebatkan hak kepemilikan dunia. Padahal, ketika jasad meninggalkan dunia, masih ada orang yang akan mengurus, memandikan, mengafani, menyalatkan, hingga mengantarkan kita ke liang kubur. Tetapi, siapa yang akan menyelamatkan ruh kita jika selama hidup kita justru jauh dari Allah SWT?

Ironisnya, terkadang kita begitu keras mempertahankan kepentingan dunia sampai lupa bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan. Kita bahkan bisa bertengkar dengan sesama, bermusuhan, dan saling menjatuhkan hanya karena persoalan harta, jabatan, dan kepemilikan. Seolah-olah dunia ini akan kita bawa sampai ke akhirat. Padahal, yang akan menemani kita bukanlah kekayaan, kekuasaan, atau pujian manusia, melainkan amal, keimanan, dan ketakwaan.

Karena itu, Mubaligh Batam harus menjadi ruang penyatuan niat, bukan arena pertarungan kepentingan. Mari kita mulai dakwah dengan membersihkan hati, memperbaiki akhlak, menyatukan langkah, dan mengembalikan seluruh orientasi perjuangan hanya kepada Allah SWT. Jangan sampai kita sibuk mengajak orang lain menuju jalan Allah, sementara diri kita sendiri masih enggan menapakinya.

Sebab, tugas mubaligh bukan sekadar mengajak manusia bertaubat, tetapi juga berani memulai taubat dari dirinya sendiri. Jangan hanya pandai menunjukkan jalan menuju surga kepada orang lain, sementara kita lupa mempersiapkan jalan pulang untuk ruh kita sendiri.

Taubat tidak menunggu tua. Dakwah tidak harus menunggu sempurna. Dan kebenaran tidak boleh menunggu pesanan siapa pun. Wallahu a’lam bishawab.(#)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budayakan. Rasa malu dan jangan mengcopy  karya orang lain